Rabu, 03 September 2014

Misionaris Tanpa Nama

“Misionaris Tanpa Nama”


                Saya tertarik menarasikan sekilas kisah “Sara Maria Timmerman” sebagai istri misionaris Joseph Kam “Rasul Maluku” yang terbenam dalam catatan sejarah. Alasannya, peran penginjilan Sara Maria Timmerman berkontribusi besar menunjang tugas misionaris Joseph Kam tetapi hanya sekelumit yang diekspos. Penulis menelusuri berbagai referensi ditemukan hanya sedikit informasi tentang kiprah tokoh ini, bahkan dalam setiap referensi hanya sepenggal paragraf yang disisipkan dalam sejarah misonaris Kam. Cerita Sara hanya merupakan kisah sisipan yang tidak perlu diberi nilai publik. Dalam keterbatasan informasi ini, saya tertantang merangkai catatan historis dari kompilasi paragraf demi paragraf yang menulis tentang sosok Sara. Harapan saya kendati sekelumit dapat berdampak positif bagi kaum perempuan yang terdiskriminasi peran dan eksistensinya dalam catatan sejarah. Saya menyebut Sara Maria Timmerman sebagai misonaris karena keterlibatannya bersama Kam dalam penginjilan layak disebut “misionaris”.
                Biografi Sara Maria Timmerman sangat sulit ditemukan. Sejarah lahir, masa kecil, remaja dan latar keluarganya tidak tercatat dalam rangkaian sejarah hidup Yoseph. Etape Sara menikah dengan Kam menjadi bagian penting dikisahkan karena dianggap sosok pelengkap bagi sang misionaris. Sara Maria Timmerman adalah seorang perempuan Indonesia Belanda yang dinikahi Kam sebagai isteri kedua pada tanggal 28 April 1815, delapan minggu sesudah tiba di Ambon. Saat itu Sara berusia delapan belas tahun, sementara Kam berumur empat puluh lima tahun.[1] Perlu diketahui pada tahun 1804, isteri pertama meninggal di Belanda karena melahirkan.  
Sara diakui adalah sosok perempuan memiliki kepribadian saleh, pendidikan baik dan cantik menunjang tugas misionaris Kam. Menurut peraturan NZG, para zendeling tidak boleh menikah sebelum pergi ke daerah penginjilan. Menariknya di Ambon - Indonesia, Joseph Kam menemukan pasangan yang sepadan dalam tugas misionaris.[2] Tugas misionaris Kam di Indonesia sejak awal didampingi oleh Sara. Perbedaan usia diantara kedua pasangan tidak menjadi penghambat dalam tugas bermisi. Bahkan Sara dicatat dapat mengimbangi dan menunjang seluruh tugas misionaris Kam secara luar biasa. Sara dengan setia mendampingi Kam sebagai suami dalam pekerjaan misionaris di Maluku – Indonesia.[3]
Sara melakukan tugas domestik dan publik secara baik. Dalam ruang domestik, Sara adalah seorang nyonya-rumah yang baik dan ramah, selalu siap-sedia menolong dan memberi nasehat. Dalam tugas misionaris secara publik, Sara membantu dalam pengajaran agama kepada calon-calon baptisan, mengajarkan bahasa Melayu kepada pendatang-pendatang baru dan kalau Kam berada dalam perjalanan, Sara menggantikan Kam dalam kumpulan-kumpulan rumah tangga, menulis surat dan mengurus berbagai hal yang berkaitan tugas misionaris.[4] Kumpulan rumah tangga adalah sekelompok orang, tua dan muda, laki-laki dan perempuan yang tidak berasal dari keluarga Kristen (dari golongan buda atau dari awak kapal).
Tugas pengajaran katekisasi bagi pemuda, buta huruf, orang lanjut usia yang dilakukan dua kali seminggu juga melibatkan peran Sara ketika Kam ke luar kota. Sara mengajar orang-orang yang cukup berbakat dalam membaca dan mengerti Alkitab dalam Bahasa melayu (menurut terjemahan Leydecker). Pertemuan-pertemuan doa yang diadakan Kam setiap hari Sabtu malam merupakan corak suatu katekisasi melibatkan peran Sara.[5] Kecerdasan Sara membuatnya mampu menjadi penerjemah kepada Kam dalam bahasa Melayu. Dengan rajin Sara bertugas sebagai ibu panti-asuhan, ia memperhatikan kepentingan dalam rumah-piatu. Pujian diberikan kepada Sara dalam surat dan buku harian yang dibuat setiap orang atas pelayanan dan kasihnya selama ini.[6]
Ketika Kam suaminya sekarat, Sara dengan kesalehan yang kuat meminta Gericke sahabat zendingnya memanjat doa kepada Kam. Kam meninggal pada tanggal 14 Juli 1833 namun Sara tetap berperan sebagai misonaris. Sara hidup  dua puluh lima tahun kemudian sebagai  “perempuan saleh” hingga meninggal pada tanggal 13 Desember 1858. Sara menjadi penolong dan penyokong bagi banyak orang. Beberapa zending menikah dengan gadis-gadis yang dididik dibawah asuhannya secara baik.[7] Sara termasuk misionaris yang berjasa dalam tugas penginjilan tetapi terlupakan dalam sejarah. Tugas penginjilan Sara berada dibawah banyang-bayang suaminya Kam. Peran dan kiprah Sara sebanding dengan Kam, sehingga layak disebut misionaris, kendati dalam aturan gerejawi ia bukan seorang zending. Lebih tepat saya mengatakan Sara Maria Timmerman adalah “misionaris tanpa nama”.

DAFTAR PUSTAKA
Enklaar,  I. H., Joseph Kam Rasul Maluku,  Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980.
Wellem,  F. D., Tokoh – tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2011.




[1] I. H. Enklaar, Joseph Kam Rasul Maluku,  (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980), h. 49
[2] Ibid, h. 48
[3] F. D. Wellem, Tokoh – tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2011), h. 110
[4] I. H. Enklaar, Joseph Kam Rasul Maluku, h. 49
[5] Ibid, h. 112.
[6] Ibid, h. 49
[7] Ibid, h. 152 – 155

Tidak ada komentar:

Posting Komentar