“Misionaris Tanpa Nama”
Saya tertarik menarasikan
sekilas kisah “Sara Maria Timmerman” sebagai istri misionaris Joseph Kam “Rasul
Maluku” yang terbenam dalam catatan sejarah. Alasannya, peran penginjilan Sara Maria Timmerman berkontribusi besar
menunjang tugas misionaris Joseph Kam tetapi hanya sekelumit yang diekspos.
Penulis menelusuri berbagai referensi ditemukan hanya sedikit informasi tentang
kiprah tokoh ini, bahkan dalam setiap referensi hanya sepenggal paragraf yang
disisipkan dalam sejarah misonaris Kam. Cerita Sara hanya merupakan kisah sisipan yang tidak perlu diberi nilai
publik. Dalam keterbatasan informasi ini, saya tertantang merangkai catatan
historis dari kompilasi paragraf demi paragraf yang menulis tentang sosok Sara. Harapan saya kendati sekelumit
dapat berdampak positif bagi kaum perempuan yang terdiskriminasi peran dan
eksistensinya dalam catatan sejarah. Saya menyebut Sara Maria Timmerman sebagai misonaris karena keterlibatannya
bersama Kam dalam penginjilan layak disebut “misionaris”.
Biografi Sara Maria Timmerman sangat sulit ditemukan. Sejarah lahir, masa
kecil, remaja dan latar keluarganya tidak tercatat dalam rangkaian sejarah
hidup Yoseph. Etape Sara menikah
dengan Kam menjadi bagian penting dikisahkan karena dianggap sosok pelengkap
bagi sang misionaris. Sara Maria
Timmerman adalah seorang perempuan Indonesia Belanda yang dinikahi Kam
sebagai isteri kedua pada tanggal 28 April 1815, delapan minggu sesudah tiba di
Ambon. Saat itu Sara berusia delapan belas tahun, sementara Kam berumur empat
puluh lima tahun.[1] Perlu
diketahui pada tahun 1804, isteri pertama meninggal di Belanda karena
melahirkan.
Sara
diakui adalah sosok perempuan memiliki kepribadian saleh, pendidikan baik dan
cantik menunjang tugas misionaris Kam. Menurut peraturan NZG, para zendeling tidak boleh menikah sebelum
pergi ke daerah penginjilan. Menariknya di Ambon - Indonesia, Joseph Kam
menemukan pasangan yang sepadan dalam tugas misionaris.[2]
Tugas misionaris Kam di Indonesia sejak awal didampingi oleh Sara. Perbedaan
usia diantara kedua pasangan tidak menjadi penghambat dalam tugas bermisi.
Bahkan Sara dicatat dapat mengimbangi dan menunjang seluruh tugas misionaris
Kam secara luar biasa. Sara dengan setia mendampingi Kam sebagai suami dalam
pekerjaan misionaris di Maluku – Indonesia.[3]
Sara
melakukan tugas domestik dan publik secara baik. Dalam ruang domestik, Sara
adalah seorang nyonya-rumah yang baik dan ramah, selalu siap-sedia menolong dan
memberi nasehat. Dalam tugas misionaris secara publik, Sara membantu dalam
pengajaran agama kepada calon-calon baptisan, mengajarkan bahasa Melayu kepada
pendatang-pendatang baru dan kalau Kam berada dalam perjalanan, Sara
menggantikan Kam dalam kumpulan-kumpulan
rumah tangga, menulis surat dan mengurus berbagai hal yang berkaitan tugas
misionaris.[4] Kumpulan rumah tangga adalah sekelompok
orang, tua dan muda, laki-laki dan perempuan yang tidak berasal dari keluarga
Kristen (dari golongan buda atau dari awak kapal).
Tugas
pengajaran katekisasi bagi pemuda, buta huruf, orang lanjut usia yang dilakukan
dua kali seminggu juga melibatkan peran Sara ketika Kam ke luar kota. Sara
mengajar orang-orang yang cukup berbakat dalam membaca dan mengerti Alkitab
dalam Bahasa melayu (menurut terjemahan Leydecker). Pertemuan-pertemuan doa
yang diadakan Kam setiap hari Sabtu malam merupakan corak suatu katekisasi
melibatkan peran Sara.[5]
Kecerdasan Sara membuatnya mampu menjadi penerjemah kepada Kam dalam bahasa
Melayu. Dengan rajin Sara bertugas sebagai ibu
panti-asuhan, ia memperhatikan kepentingan dalam rumah-piatu. Pujian diberikan kepada Sara dalam surat dan buku
harian yang dibuat setiap orang atas pelayanan dan kasihnya selama ini.[6]
Ketika
Kam suaminya sekarat, Sara dengan kesalehan yang kuat meminta Gericke sahabat
zendingnya memanjat doa kepada Kam. Kam meninggal pada tanggal 14 Juli 1833
namun Sara tetap berperan sebagai misonaris. Sara hidup dua puluh lima tahun kemudian sebagai “perempuan saleh” hingga meninggal pada
tanggal 13 Desember 1858. Sara menjadi penolong dan penyokong bagi banyak orang.
Beberapa zending menikah dengan gadis-gadis yang dididik dibawah asuhannya
secara baik.[7]
Sara termasuk misionaris yang berjasa dalam tugas penginjilan tetapi terlupakan
dalam sejarah. Tugas penginjilan Sara berada dibawah banyang-bayang suaminya
Kam. Peran dan kiprah Sara sebanding dengan Kam, sehingga layak disebut
misionaris, kendati dalam aturan gerejawi ia bukan seorang zending. Lebih tepat
saya mengatakan Sara Maria Timmerman adalah
“misionaris tanpa nama”.
DAFTAR PUSTAKA
Enklaar, I. H., Joseph Kam Rasul Maluku, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980.
Wellem, F. D., Tokoh – tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta
: BPK Gunung Mulia, 2011.
[1] I.
H. Enklaar, Joseph Kam Rasul Maluku, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980), h. 49
[2]
Ibid, h. 48
[3] F.
D. Wellem, Tokoh – tokoh dalam Sejarah
Gereja, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2011), h. 110
[4] I.
H. Enklaar, Joseph Kam Rasul Maluku, h.
49
[5]
Ibid, h. 112.
[6]
Ibid, h. 49
[7]
Ibid, h. 152 – 155
Tidak ada komentar:
Posting Komentar