Rabu, 03 September 2014

Evolusi Agama

“Evolusi Agama”
(Kajian Perkembangan Agama dari Perspektif Evolusi)

 


Abstract
Religion and religious practices have existed throughout the human history and persist today in every corner of the world. Explaining religion is a serious problem for any evolutionary account of human thought and society. In most societies religion is a prime motivator of both individual and collective behavior. Discipline of ethology which means “the biology of behaviour’s” have been used to studying religion in this articles. Ethology has approached the study of religion  by using the theory of Evolution  by natural selection of Charles Darwin. Using Darwinian Theory to understand religion is finally becoming acceptable in both scientific and religious circles.The Ethology is endeavoring to understand one important aspect of religion, religious behaviour.

Keyword’s: Evolution, Religion, Behaviour, Ethology, Adaptation, Natural Selection and Biology
  
A.      Pengantar
Agama berkembang sejajar dengan sejarah peradaban manusia. Gerakan perubahan agama merupakan isu penting diwacanakan pada abad ke-22. Agama berevolusi alami sesuai pergerakan zaman di tengah benturan peradaban. Benturan menghasilkan produk agama sebagai karya imajinatif manusia tentang Tuhan dalam waktu dan ruang tertentu. Agama berkembang dari kemasan primitif menuju modern, dari politeis menuju monoteis. Aliran pemikiran seputar agama juga berkembang dari agnostik, teisme, humanis, atheis sampai pemikiran bebas. Agama seperti menjalani perziarahan panjang dengan rumusan bentuk dan konsep unik.
Tinjauan universalitas kepercayaan agama dalam sejarah peradaban manusia ditemukan pengamatan penuh teka-teki. Asumsinya, ada kompleksitas ide seputar arah pergerakan agama. Jose M. Musacchio menganggap perkembangan agama berbanding terbalik dengan perkembangan moral. Sejarah mencatat praktek agama berubah tetapi ajaran moral tetap berdasar Golden Role. Ajaran yang dikenal dalam ajaran Konfisius, beberapa abad sebelum hadirnya nabi-nabi Kristen dan Islam. Agama besar telah kehilangan universalitas karena terpisah dalam kelompok denominasi lebih kecil. Kepercayaan agama beragam saling bertentangan dan mempertentangkan keutuhan kebenaran”.[1]
Richard Dawkins dalam ulasan tema Hipotesa Allah mempertanyakan progresitas sejarah agama dari politeis di zaman primitif menuju monoteis di era modern. Dawkins merujuk pada ide Ibn Warraq yang berasumsi provokatif bahwa monoteis justru menghilangkan satu lagi allah menjadi atheis. Ensiklopedia Katolik bahkan tidak mengakui politeis dan atheis.[2] Pada sisi lain kaum agamawan dengan bangga mengakui sejarah agama berkembang progresif dalam peradaban manusia. Beragam latar dan dinamika perkembangan agama berpotensi menciptakan masalah pelik.
Penulis tertarik membedah dinamika perkembangan agama dengan teori evolusi. Pada titik ini agama dan sains bertemu harmonis, esensi masalah adalah agama dan sains sebagai metode. Ibarat sains menawarkan jalan menuju pada agama. Alasan logis, Pertama, rasionalitas evolusi agama adalah jalan pengarah menemukan hakikat jantung agama dalam peradaban manusia. Kedua, kesadaran evolusi agama membangun penghayatan tentang signifikansi peran agama bagi peradaban manusia dan seluruh ciptaan. Ketiga, kajian evolusi agama menyadarkan pentingnya peran sains mensinergikan perbedaan agama yang berpotensi konflik.
Pertanyaan reflektif adalah apakah agama di era modern mengalami kemunduran atau justru menghadapi kebangkitan? Apakah agama mampu bertahan dalam perjumpaan dengan sains? Apakah agama-agama mampu bersinergi di tengah realitas plural? Bagaimana sikap bijaksana agama di tengah benturan nilai dalam peradaban manusia? Apakah agama dan sains mampu berkontribusi bagi kemanusiaan? Pertanyaan reflektif mendorong penulis membedah judul “Evolusi Agama”, Kajian Perkembangan Agama dari Perspektif Evolusi. Hasil kajian direlevansikan dengan realitas pluralisme agama di Indonesia.

B.       Kajian Evolusi Agama
Perkembangan agama dikaji dengan pendekatan multidisipliner oleh ilmuwan. Fokus ulasan pada asal-usul lahir dan bertumbuhnya suatu agama. Studi agama dikategorikan dalam dua tipikal yakni pendekatan tradisional dan kontemporer. Pendekatan tradisional memakai disiplin ilmu teologi, psikologi, sosiologi dan antropologi budaya. Sementara di era kontemporer hadir disiplin ilmu baru yang menyelidiki sejarah agama secara berbeda. Pendekatan baru seperti psikologi evolusioner, ilmu kognitif, antropologi kognitif dan filsafat pikiran mempelajari agama dengan hasil informatif dan menarik. Disiplin ilmu baru umumnya mendekati studi agama dengan teori evolusi yang diusung Charles Darwin (1809 – 1882).[3]
Secara tradisional dikenal Inger Furseth, Pal Repstal, Kieran Flanagan dan Joshua A. Fishman sementara pendekatan modern ada Donald Broom, Lee A. Kirckpatrick, Jose M. Misacchio, Arthur Peaccocke dan Michael Dowd. Inger Furseth dan Pal Repstal memakai pendekatan sosiologi, istilahnya teori sosiologi agama. Furseth dan Repstal berpendapat “agama dibangun dari interaksi sosial antara pribadi dan masyarakat. Pribadi menciptakan masyarakat, sebaliknya masyarakat membentuk pribadi”.[4] Lee A. Kirckpatrick memakai pendekatan psikologi agama membedah sejarah agama. Dalam paradigma psikologi evolusioner, agama bukan sekedar adaptasi seleksi alam tetapi merupakan koleksi sejumlah produk sistem psikologi yang dihasilkan dalam sejarah manusia.[5] Donald Broom dalam pendekatan biologis menyatakan dua ide agama yaitu: pertama, moral memiliki fondasi biologi sebagai konsekuensi seleksi alam dari beragam spesies dan kedua, moral adalah struktur penopang esensial bagi agama.[6]
Penulis menyelidiki agama dari teori evolusi sesuai pendekatan modern. Pertanyaan kritis, mungkinkah teori evolusi sebagai produk sains dipakai membedah masalah agama? Alasannya teori evolusi selalu dipertentangkan dengan agama. Kalangan Kristen secara internal juga berdebat hangat tentang teori evolusi karena bersifat kompleks. Orang Kristen konservatif umumnya menolak evolusi, karena dinilai karya kompetetif yang tidak bermakna, kejam dan kurang bertuhan. Penolakan ini diapresiasi positif, mendorong kaum teolog evolusioner menemukan cara sakral mengkomunikasikan kepercayaan Kristen. Terbangun sikap ganda, pada sisi spektrum teolog kaum konservatif menilai pandangan evolusi menjijikkan sementara kaum liberal menyesal menerima teori evolusi.[7] Michael Dowd menawarkan relasi positif agama dengan sains. Sejarah evolusioner mesti direartikulasi agar metodenya diakui sakral kaum konservatif dan membanggakan kaum liberal.[8] Penulis mengapresiasi upaya Dowd mengharmoniskan relasi sains dan agama. Catatan kritis, relasi mesti bersifat mutualis dan transformatif.

1.         Deskripsi Perilaku Agama
a.      Pendekatan Biologi Perilaku
Penulis memakai disiplin ilmu ethologi artinya “biologi perilaku” untuk menganalisa perilaku agama. Perilaku agama menjadi fokus analisa evolusi agama. Alasannya adalah: pertama, teori biologi perilaku lahir dilatari upaya ilmuwan merelasikan agama dan sains secara ramah. Kedua, jiwa teori ini menyentuh pusat realitas agama. Teori biologi perilaku berupaya mempelajari dua hal yakni: apakah agama berkontribusi bagi kelangsungan hidup dengan memakai mekanisme kognitif dan apakah ajaran agama membudaya dalam masyarakat.[9] Ketiga, teori biologi perilaku sebagai produk sains mampu menjembatani perbedaan agama yang destruktif.
Studi perilaku agama berupaya mempelajari fenomena agama bersumber dari realitas empiris. Pendekatan ini meninjau agama secara luas melintasi waktu, budaya dan spesies, kontras dengan metode umum diminati banyak orang. Orang cenderung memotret agama secara dekat dan menekankan sebatas partikularitas agama. Pendekatan biologi perilaku mencari sisi universalitas di balik partikularitas agama.[10]
Pendekatan ini diperkenalkan oleh Niko Tinbergen (1907 – 1988). Dalam ethologi, langkah pertama memahami perilaku agama adalah mengamati dan memberi ciri dengan menggambarkan maupun mendefinisikan. Secara biologis, perilaku dapat dicirikan dengan bentuk dan fungsi. Langkah kedua, diajukan empat pertanyaan kunci yakni: apa arti sejarah evolusioner perilaku? Kapan dan bagaimana perkembangan perilaku dalam kehidupan individu? Apa penyebab mekanistik perilaku agama? Apakah nilai adaptif dari perilaku agama atau dapatkah perilaku agama beradaptasi?[11]
Studi saintifik perilaku agama dibatasi pada fenomena yang teridentifikasi oleh indera. Hipotesa perilaku agama teruji dengan membangun korelasi di antara setiap fenomena.[12] Penulis menemukan sisi lemah teori ini karena hanya menyoroti realitas dari identifikasi indera. Perilaku agama sifatnya kompleks dan tidak seluruhnya dapat diinderai. Kepercayaan agama dari narasi fiktif tidak diakui objektivitasnya.
b.      Perilaku Agama sebagai Fenomena Biologi
Studi saintifik perilaku agama membutuhkan penelitian objektif, defenisi tepat dan skeptisisme secara sehat. Studi perilaku agama sangat rumit karena bersifat paradoks. Akurasi pernyataan agama tidak dapat dibuktikan secara empiris. Paradoksal perilaku agama dibedah dengan rumusan defenisi tepat sesuai kenyataan dan bukan metafora. Defenisi konseptual bertujuan mencirikan semua elemen untuk memisahkan perilaku religius dan non religius. Langkah berikut dilakukan uji hipotesa terhadap hasil kategorisasi. Tujuan studi adalah meningkatkan pemahaman agama yang berkontribusi bagi kemanusiaan.[13]
Defenisi perilaku agama mengandung dua istilah kunci yakni: perilaku dan agama. Perilaku secara biologis diidentifikasi dengan indera melihat dan mendengar. Agama secara sederhana memiliki empat unsur yakni: kepercayaan, nilai, suasana hati dan perasaan. Keempat unsur direlasikan dengan kekuatan supernatural yang disebut “Tuhan” dan berkontribusi membentuk perilaku agama.[14] Perilaku dan agama memiliki hubungan kausal yang diuji secara inderawi. Perilaku agama adalah komunikasi penerimaan klaim supernatural disertai unsur-unsur identifikasi perilaku yang layak sebagai agama.[15]
Secara biologi, evolusi agama adalah proses seleksi alam yang berlangsung pada tingkat individu dan kelompok sosial. Sejarah evolusi agama dibingkai dalam dua tipe adaptasi yakni: filogenetik dan kultural. Filogenetik berasal dari kata filogeni artinya sejarah evolusioner. Adaptasi filogenetik terjadi secara intra-individual, dimana pola struktur diwariskan melalui DNA (gen) dan meningkatkan reproduksi pewaris gen dalam lingkungan spesifik. Sementara adaptasi kultural terjadi secara intra atau ekstra individual, terhadap makhluk bernyawa maupun tidak bernyawa. Pola struktur diwariskan melalui pembelajaran sosial dan meningkatkan reproduksi pewaris gen dalam lingkungan tertentu.[16]
Dalam perspektif ethologi, kategorisasi perilaku agama sejajar dengan tipe adaptasi terbagi atas dua tipe, yakni:
Pertama, Tipe Perilaku I. Tipe perilaku I didefenisikan sebagai struktur dan fungsi dalam lingkungan alam. Bentuk spesies pada tipe ini bersifat universal dan terlihat pada semua binatang bertulang belakang (vetebrata). Tipe ini memiliki dua ciri yakni: refleks dan koordinasi motor pola. Koordinasi motor pola terbangun di antara perilaku manusia yang refleks dan fleksibel. Perilaku manusia pada tipe ini yaitu: senyum manusia, perilaku malu dan sikap patuh. Perilaku ini hanya dapat dimodifikasi melalui waktu, orientasi dan fungsi. Perilaku diwariskan melalui gen yang mengalami proses seleksi alam. Tipe perilaku I diwariskan dengan cara sama sebagai sturuktur anatomi statis.[17]
Banyak tipe perilaku I dipakai dalam agama seperti senyum, malu, takut dan sikap patuh. Zaman kini tipe ini umumnya muncul di semua agama besar dunia dan beberapa agama suku. Tipe ini terlihat pada aspek non vokal dari doa syafaat. Tipe perilaku I memiliki banyak fungsi dalam sejarah evolusi agama yang panjang. Salah satu fungsi tipe I adalah kepatuhan. Sikap patuh manusia memiliki banyak variasi. Tanda sikap patuh adalah volume suara dikurangi dan sujud di bawah kuasa lebih tinggi ketika berdoa. Kepatuhan ditandai dengan kepala merunduk atau dimiringkan. Tanda takut tergambar pada wajah. Jika dalam ancaman serius, tanda kepatuhan diwujudkan dengan sikap berlutut.[18]   
Kedua, Tipe Perilaku II. Tipe perilaku ini diuraikan dengan struktur dan fungsi dalam lingkungan alam. Bentuk spesies tidak universal. Perilaku dimodifikasi dan ditransmisi melalui proses pembelajaran sosial. Secara strategis perilaku manusia dimotivasi taktis sebagai hasil produk pemikiran, kreativitas dan intelegensia yang tinggi. Bentuk perilaku lain adalah bahasa simbolik yang diaktualisasi melalui vokalisasi atau tulisan. Tipe II teramati secara relatif pada kelompok taksonomi seperti hewan primata, mamalia laut dan burung tertentu. Perilaku adalah proses seleksi alam yang dimotivasi jaringan kerja saraf tertentu. Proses seleksi berlangsung secara fleksibel dimana perilaku direlasikan dan dikoordinasi dengan gen.[19]
Tipe Perilaku II adalah perilaku yang dilatari “keinginan” membangun kedekatan atau keintiman. Perilaku ini berupaya membangun kedekatan atau keintiman untuk memperoleh perhatian Tuhan melalui ritual dan seremoni agama seperti: perkawinan, baptisan, sunat, pemakaman dan seremoni penyembuhan. Perilaku ini tercermin dalam beberapa aspek agama, diantaranya: pertama, dimanfaatkan dalam doa syafaat. Kedua, dipakai untuk menarasikan dan  membaca cerita sakral dalam bahasan lokal. Ketiga, digunakan untuk menulis cerita sakral yang variatif dalam Kitab Suci seperti Alkitab maupun Al-quran.[20]

2.         Analisa Sejarah Evolusioner Perilaku Agama
Stephen K. Sanderson[21] mengulas latar historis evolusi agama. Sebagian besar penelitian cenderung fokus pada evolusi sosial lain seperti demografi, teknologi, ekonomi dan politik dibanding evolusi agama. Antropolog dan sosiolog yang tertarik mewacanakan evolusi agama adalah Sir Edward Burnett Tylor (1832 – 1917) dan Hobert Spencer (1820 – 1903). Ketertarikan ini bersifat sporadis karena sesudah ketiadaan mereka evolusi agama tidak berkembang. Hal ini dilatari munculnya kritik evolusi sosial dari antropolog Frans Boas dan mazhabnya maupun dominasi antropolog fungsionalis Bronislaw Malinowski dan A. R. Radcliffe yang mengkritik evolusi agama.
Kebangkitan evolusi agama ditindaklanjuti era kini oleh Roberth Bellah dan Anthony Wallace yang memperkenalkan pola evolusi agama. Bellah mengkategorikan empat tahap pola evolusi, yakni: pertama, agama primitif yang ditemukan pada era kesukuan. Kedua, agama kuno, seperti agama politeis kuno dari dunia lama dan baru. Ketiga, agama historis dikenal dengan agama monoteis sebagai agama yang menyelamatkan dunia. Keempat, agama modern yakni agama di abad ke-20.[22]
Tipologi ini direformulasi oleh Wallace.[23] Agama masyarakat dibentuk dari institusi kultus. Institusi kultus adalah semua kultus yang mempunyai tujuan sama, secara eksplisit dirasionalkan dan didukung kelompok sosial yang sama. Wallace menggambarkan empat tipe institusi kultus yakni: pertama, individualistis, setiap individu menampilkan ritus pribadi. Kedua, Shamanik, sebagian agama takhyul (shaman) menampilkan ritus kepada orang lain. Ketiga, komunal, sekelompok orang secara kolektif menampilkan ritus agama lain pada waktu tertentu. Keempat, gerejawi, imam memonopoli pengetahuan agama dan menampilkan ritus khusus dihadapan komunitas.
Kombinasi keempat institusi kultus membentuk empat tahap utama evolusi agama, yakni: shamanik, komunal, olimpian atau politeis dan monoteis. Penulis merujuk pada pola evolusi agama yang diajukan Wallace, karena kategorisasi Wallace bersifat holistik dan detail.
Agama Shamanik
Agama shamanik merupakan kombinasi institusi kultus individualistik dan shamanik. Shaman, berasal dari bahasa Tungus, masyarakat nomaden di Siberia, kadang-kadang diterjemahkan “seorang yang tahu”.[24] Shaman biasanya hanya suatu praktek agama. Agama ini muncul terutama dalam kumpulan masyarakat berburu dan diorganisasikan dalam komunitas suku. Murdokh dan White melaporkan dalam Standar Sampel Lintas Budaya bahwa 63% agama shamanik ditemukan pada kelompok masyarakat berburu dan 83% di komunitas suku. Agama shamanik ditemukan umumnya di seluruh dunia dan berkembang melalui tahap evolusioner. Agama shamanik ditetapkan sebagai agama purba dan shaman adalah spesialis agama purba.[25]
Agama shamanik percaya pada suara binatang, roh lokal dan dewa tinggi seperti Sedna “penjaga binatang laut”, matahari, bulan dan roh di udara. Agama shamanik memiliki dua kultus individualistik yakni kultus roh penolong dan kultus permainan binatang. Shaman diyakini mampu mendiagnosa dan menyembuhkan penyakit sebagai kekuatan supernatural. Shaman percaya pada beragam roh dan mengakui kekuatan kosmologi melekat pada binatang, iklim, ruang dan waktu.[26] Shaman menampilkan aktivitas beragam seperti: a) menyembuhkan dan memulihkan penyakit, b) melindungi permainan binatang, c) berkomunikasi dengan kematian, d) memulihkan jiwa yang hilang dan e) membebaskan manusia dari roh jahat.
Ritual shamanik secara tipikal melakukan ritmik berulang seperti menari, bermain tambur dan menyanyi.[27]Aktivitas yang menyebabkan kehilangan kesadaran dan merupakan “pengalaman aneh”. Realitas ini terindikasi sebagai sindrom shamanik yang dicirikan dengan kemampuan hipnotis sebagai pengalaman aneh yang luar biasa. Ada kesamaan menonjol antara praktek shamanik dengan perilaku agama di seluruh dunia.[28] Berdasarkan psikobiologi, kesamaan tradisi shamanik dengan realitas kini adalah hasil penemuan difusi budaya.
Agama Komunal
Tergambar etape evolusioner dari agama shamanik ke agama komunal lewat praktek ritus keagamaan yang dilakukan. Secara evolutif, agama shamanik mengalami transisi ke masyarakat agrikultural. Agama shaman bertahan di era kini dengan bentuk berbeda. Shaman disebut sebagai penyembuh, penyihir dan dukun. Tipe penyembuh sekarang tidak berbeda dengan shaman kuno. Keduanya melakukan aktivitas sama yakni menyembuhkan.[29] Praktek penyembuhan dilanjutkan agama gerejawi melalui doktrin agama formal maupun imam. Dalam masyarakat industri, agama penyembuhan secara menonjol berasal dari shaman kuno berbentuk “Penyembuh Iman.”[30]
Berdasarkan data Standar Sampel Lintas Budaya, agama komunal sebagian besar diminati masyarakat agrikultur. Agama komunal juga ditemukan dalam komunitas suku sekitar 52%. Agama komunal mempraktekkan institusi kultus individualistik, shaman dan komunal. Secara praktis, komunitas masyarakat datang bersama-sama dan terlibat dalam ritus kolektif tertentu. Contohnya, orang Trobriander, suku yang terkenal dari pulau Melanesia. Institusi kultus komunal yang dipraktekkan kultus teknologi magic. Dalam tradisi ini, orang-orang mengadakan ritual kolektif dipimpin magician kebun. Orang-orang Trobriander juga mempunyai kultus roh kematian dalam pelayanan pemakaman.[31]
Beberapa kemampuan sakral penduduk suku Trobriander adalah: pertama, mampu menyebabkan atau menyembuhkan penyakit. Kedua, mempunyai kekuatan magis untuk membantu dan melindungi dari roh dengki, sihir maupun roh jahat lain. Dimensi lain agama komunal adalah penyembahan leluhur. Roh leluhur yang mati adalah entitas supernatural dalam agama ini. Komunitas ini respek terhadap leluhur seperti kehidupan dan kematian. Sebagai figur otoritatif, kehidupan leluhur adalah sumber berkat dan hukuman.[32] Ritus keagamaan komunal memiliki kesamaaan dengan kultus agama lain di era kini yang melakukan ritus penyembuhan dan penyembahan leluhur dalam kemasan bentuk berbeda.


Agama Olimpian/ Politeis
Olimpian adalah istilah yang diadopsi Wallace dari Yunani kuno untuk menyebut politeisme agama. Data Standar Sampel Linta Budaya mencatat, mayoritas agama olimpian atau politeis sekitar 50% ditemukan pada masyarakat agrikultur secara intensif. Agama politeis ditemukan sekitar 42% juga pada masyarakat agrikultur luas. Agama politeis mempunyai panteon khususnya dewa dan imam profesional yang memonopoli pengetahuan agama maupun memimpin pelaksanaan ritual.[33]
Dalam politeisme primitif, para dewa disamakan dengan manusia dan alam.  Dewa digambarkan variatif yakni orang baik, jahat maupun bodoh. Para dewa biasanya makan dan minum bahkan sering melakukan pesta besar, menyukai seks maupun berpesta pora. Para dewa juga berjuang dan pergi perang. Dewa politeisme seperti manusia sifatnya terbatas dan fana, dapat dibunuh maupun dimakan. Praktek politeisme sangat kuat bertumbuh di masyarakat Israel kuno. Kekuatan alam dapat dihuni oleh para dewa.[34]
Ciri agama politeis lain, praktek ritualistik menggunakan korban binatang. Cara ini diklaim sebagai ciri universal agama politeis. Antropolog Marvin Harris (1927-2001) berkomentar “Persia, Weda Brahmana, Cina, dan Jepang umumnya melakukan ritual pengorbanan hewan peliharaan. Sangat sulit menemukan masyarakat tunggal di seluruh Eroasia dan Afrika Utara dimana ritus korban hewan peliharaannya tidak didukung negara.”[35] Hewan peliharaan yang dipakai dalam ritus korban lebih dihargai. Hewan peliharaan lebih dihargai karena difungsikan dalam ritus korban. Sebaliknya hewan liar kurang dihargai karena jarang dipakai dalam ritus korban dan disediakan bebas dari alam.[36]
Agama politeis sangat terkenal ada di Sumeria dan Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi kuno, Maya Aztec dan Inca. Terindikasi ada dua tipe evolusioner agama politeis berbeda. Agama politeis awalnya banyak bertumbuh di masyarakat agrikultur luas yang diorganisasikan dalam suku dan negara kecil. Contoh, Ashanti dari Afrika Barat yang terorganisir secara politik dalam negara. Orang Ashanti menyembah sosok super yang dikenal dengan Nyame. Nyame adalah dewa langit yang diakui jauh dari dunia dan menentukan langsung takdir manusia.[37]
Agama politeis kemudian berkembang dalam masyarakat agrikultur secara intensif. Agama politeis ada di Asia Timur yakni orang Arya. Orang Arya mempercayai banyak dewa, terutama empat dewa: Indra, dewa perang dan cuaca; Varuna, mempertahankan moralitas dan tatanan sosial; Agni, dewa api berhubungan dengan para imam yang melakukan ritual dengan api dan Soma, dewa tanaman. Dewa ini merupakan bagian integral kultus korban.[38] Dewa politeis Arya menunjukkan bahwa masyarakat Arya melakukan aktivitas agrikultur secara intensif.

  
Agama Monoteis
Secara historis agama monoteis muncul selama periode yang dikenal “era aksial”, sekitar 600 BC–1 AD. Pada era ini Yudaisme berubah menjadi monoteisme, menyembah satu Allah Yahwe yang benar dan muncul Hinduisme maupun Budhisme di India serta Konfisius di Cina. Pada tahap berikut muncul Laozi dan taoisme di Cina. Beberapa ratus tahun kemudian kekristenan keluar dari Yudaisme sebagai hasil gerakan mesianik. Islam adalah agama  monoteis besar yang terakhir terbentuk, diikuti sebagian orang asing yang menghadirkan sekte kristiani. Kendati berubah menjadi Kristen pada abad 1 AD, sebagian besar orang hidup di area kota. [39]
Orang Asia Barat yang mengembangkan Yudaisme, Kristen dan Islam memiliki tiga ciri yakni agrikulturalis intensif, pastoralis dan kombinasi keduanya. Orang Asia Timur mengembangkan Hinduisme, Budhisme, konfisiusme dan Taoisme. Bertolak dari sejarah evolusi, Sanderson[40] mengajukan beberapa hal baru agama dunia yang tersebar di era aksial, yakni :
1.    Dalam agama politeis, beragam dewa diyakini memiliki karakteristik dan keinginan seperti manusia. Allah monoteis adalah Allah transenden yang tidak sama dengan manusia. Allah yang Maha Hadir, Maha Tahu dan Maha Kuasa.
2.    Agama monoteis menekankan keselamatan dunia dan kemurahan serta kasih Allah.
3.    Peningkatan dratis monoteisme baru menghadirkan gambaran potensi Allah untuk mengendalikan, menuntut dan menghukum. Unsur-unsur menghukum umumnya tergambar di agama-agama pra-aksial.
4.    Doktrin agama menjadi lebih rumit.
5.    Ada kemunduran tajam tentang pengorbanan binatang.
6.    Agama monoteis mengintensifkan kontrol imam terhadap ritual agama dan berfungsi lebih berkuasa dibanding imam pada agama politeis

Analisa Evolusi Agama
Penulis merujuk pada ide Jay R. Feireman yang dikutip Sanderson untuk menganalisa evolusi agama. Fenomena evolusioner agama bersifat ganda yakni secara biologis dan sosial. Winkelman dan James McClenon mengomentari shamanisme didasari oleh neuoropsikologi. McClenon memberi skenario logis tentang bagaimana ritual shamanik berevolusi dalam lingkungan leluhur manusia sekitar 30.000 tahun lalu. Pada era kini beberapa ahli mencatat sejumlah kesamaan mencolok antara ritual agama dengan gangguan emosial yang disebut Gangguan Obsesif Kompulsif. “Modul ritual” pada otak diduga sangat kuat mempengaruhi manusia terlibat dalam ritual agama kolektif. Gangguan Obsesif Kompulsif dinilai sebagai bentuk patologi individu yang menghasilkan sikap hiperaktif. [41]
Secara biologis, beragam jenis aktivitas agama dihasilkan dari ethologi manusia. Jika impulsif agama didasari secara biologis, impulsif sangat besar dipengaruhi konteks sosio-ekologi dimana manusia hidup. Jadi, agama berevolusi secara sosial melalui tahap umum, dari era shamanik ke komunal, komunal ke politeistik dan politeistik ke monoteistik. Evolusi agama tidak berakhir dengan kemunculan agama monoteistik, agama keselamatan dunia. Agama monoteistik mengalami perubahan sepanjang waktu. Kendati hasil evolusi agama tetap berbentuk monoteistik tetapi tidak ada tahap akhir evolusi agama. Transendensi agama monoteistik bukan tahap akhir evolusi agama. Proses evolusi agama berlangsung mengikuti gerakan peradaban sejarah manusia.  
Sosiolog Daniel Bell mendeklarasikan pada tahun 1960 bahwa kita akan melihat “akhir ideologi”.[42] Ilmuwan politik Francis Fukuyama mengklaim, dengan kapitalisme liberal modern kita mencapai “akhir sejarah”.[43] Argumentasi ini menegaskan, perbedaan agama diabaikan berarti mengakhiri sejarah evolusi agama. Dalam perbedaan agama ditemukan nilai universalitas agama yakni dasar moralitas. Tidak ada alasan mengunggulkan agama satu dan merendahkan agama lain. Setiap agama memiliki garis relasi sejarah yang berkesinambungan dengan bentuk dan konsep berbeda. Ibarat kita menempuh tujuan satu dengan cara dan jalan berbeda.
Setiap agama menawarkan hanya satu cara dan jalan moralitas tentang Tuhan maupun kemanusiaan. Pemutlakan jalan agama tertentu sebagai kebenaran utama, bukan solusi bijak. Kebenaran suatu agama dimutlakkan berarti mereduksi dan menutup penemuan jalan moralitas lain. Jalan berbeda tidak menggiring pada perpecahan destruktif tetapi semakin memperkaya dan memperkuat moralitas.

C.      Relevansi dalam Konteks Indonesia
Kajian evolusi agama adalah perspektif alternatif untuk menjembatani keterpisahan agama yang destruktif. Fokus sejarah evolusioner agama untuk menemukan nilai universalitas agama. Pada bagian ini, kajian evolusi agama sebagai produk sains difungsikan ganda, yakni: pertama, memotret realitas beragama di Indonesia dan kedua, ditawarkan reartikulasi teologi menyikapi perbedaan agama. Potret pluralisme agama di Indonesia sarat dengan kompleksitas masalah. Realitas faktual menegaskan sisi ambivalensi agama. Pada satu sisi berkontribusi bagi kemanusiaan tetapi sisi lain menyulut tindakan dehumanisasi. Sejumlah kompleksitas masalah agama yang destruktif dan disintegratif adalah:
1.    Indonesia sebagai bangsa majemuk tidak luput dari ancaman perpecahan maupun konflik bernuansa primordial. Dalam catatan sejarah, sejumlah konflik komunal terjadi di Indonesia, diantaranya: di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Maluku dan Sulawesi Tengah. Peristiwa penyerangan aliran kelompok Sufi di Sukabumi, Jawa Barat, penyerbuan kelompok Syiah di Sampang, Madura dan pembakaran pondok pesantren di Depok, Jawa Barat juga termasuk daftar konflik yang memprihatinkan. Konflik telah merenggut ribuan nyawa dan mengguncang fondasi struktur kebangsaan yang diletakkan founding father. Menariknya, intensitas konflik bergerak paralel dengan menguatnya simbol dan identitas keagamaan dari gelombang radikalisme yang terjadi pada satu dekade terakhir. Wacana eksklusivitas dan aksi kekerasan yang ditebarkan menggerogoti nafas pluralisme di Indonesia.[44]
2.    Persoalan kaum minoritas dan mayoritas di Indonesia sampai sekarang menjadi perdebatan serius di antara penganut paham teologi semitik. Satu pihak menghendaki persoalan mayoritas-minoritas harus diakhiri dengan debat lebih substansial tentang apa yang akan diperbuat oleh negara untuk kaum minoritas-mayoritas dan apa yang harus dilakukan kaum mayoritas-minoritas di Indonesia. Debat ini penting, karena keberadaan kaum mayoritas-minoritas adalah realitas sosial yang tidak bisa terabaikan. Pada pihak lain terdapat kelompok yang tetap mempertahankan pandangan, kaum mayoritas harus diberikan hak “lebih” ketimbang kaum minoritas. Alasannya, kaum mayoritas lebih berkontribusi bagi negara dibanding kaum minoritas.[45]
3.    Agama asli nusantara yang hadir di Indonesia sebelum masuknya agama “resmi versi pemerintah” hampir punah. Banyak kalangan masyarakat Indonesia yang melupakan agama atau kepercayaan asli sebagai kearifan lokal, seperti agama Sunda “Wiwitan”, yang kini tersisi pada etnis Baduy di Kenekes (Banten); di Cigugur Kuningan, dikenal agama “Buhun”; “Kejawen” di Jawa Tengah dan Jawa Timur; Agama “Parmalin” sebagai agama asli Batak; agama “Kaharingan” di Kalimantan; “Tonaas Walian” di Minahasa, Sulawesi Utara; “Tolottang” di Sulawesi Selatan; “Wetu Telu” di Lombok dan agama “Naulu” di Pulau Seram-Maluku. Agama-agama asli umumnya didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala atau dipahami hanya sebagai aliran kepercayaan. Masa sekarang, penganut agama dan kepercayaan asli tidak diakui di Indonesia sebagai agama. Penganutnya tidak diberikan hak layak dalam kehidupan berbangsa seperti tidak tercatat dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), akte kelahiran maupun pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil. Kelompok penganut agama asli umumnya berada di pedalaman dan terdiskriminasi, dicatat hanya sebagai “penghayat kepercayaan murni dan tidak murni.”[46] Agama asli memiliki kekayaan kearifan lokal yang berkontribusi bagi harmonisasi agama.
Kajian evolusi agama menawarkan pikiran solutif terhadap kompleksitas masalah agama yakni:
Pertama, evolusi agama mengukuhkan pengakuan perbedaan agama. Produk agama tidak terbentuk independen tanpa pengaruh agama lain. Agama berevolusi secara kontinyu dan berkontribusi bagi agama baru. Sikap triumfalistik agama mereduksi kekayaan nilai evolusi agama. Agama tidak diposisikan hierarkis, superior-subordinat, sebaliknya setara. Perbedaan agama dan antara denominasi agama tidak membatalkan hak maupun kewajiban penganut agama menyakini kebenaran agamanya. Klaim kebenaran agama diakui tetapi tidak dimutlakkan sebagai kebenaran universal.[47]Budhy Munawar-Rachman mengutip ide Djohan Effendy berkomentar “dari tiap agama kita bisa mengambil mutiara kerohanian yang memperluas cakrawala keagamaan kita”.[48] Kenyataan pluralisme agama tidak sekedar diwacanakan, tetapi mesti terungkap benar dalam sikap bersama. Kebutuhan utama adalah menemukan the matrix of meaning dari kepelbagian agama. Nilai-nilai bersama yang universal ditemukan sebagai rujukan bersama penganut agama mengupayakan kesejahteraan manusia. Nilai moralitas yang universalitas adalah cinta kasih. Cinta kasih adalah pancaran Allah yang Rahmani dan Rahimi.[49] Agama asli-pun mesti diberi ruang penghargaan karena memiliki nilai kearifan lokal yang memperkaya relasi pluralisme di Indonesia.
Kedua, evolusi agama mengedepankan pentingnya nilai kerukunan antar dan inter umat beragama. Kerukunan adalah sikap yang terlahir dari lubuk hati terdalam, terpancar dari kemauan berinteraksi satu sama lain sebagai manusia. Kerukunan dibangun tanpa tekanan pihak manapun. “Rukun” secara etimologis berasal dari kata tiang atau pilar, artinya setiap anggota masyarakat berfungsi saling menopang agar rumah bersama tidak runtuh. Semua orang mengemban fungsi penting menguatkan dan meneguhkan rumah bersama.[50] Kerukunan agama dapat tercipta melalui sikap rendah hati. Agamawan yang semakin religius, tahu dan sadar akan Yang Ilahi menjadi pribadi yang rendah hati. Setiap penganut agama mesti sadar mereka membawa harta wahyu ilahi dalam wadah yang mudah pecah, “wadah pengertian dan tradisi manusiawi”. Iman mesti dibicarakan secara rendah hati. Bicara dengan rendah hati adalah prasyarat kesejatian wacana tentang Ilahi. Kerendahan hati adalah syarat kredibilitas wacana tentang Tuhan. Agamawan yang tidak rendah hati memberi citra buruk pada agama.[51]
Ketiga, pluralisme agama merupakan isu krusial di Indonesia yang perlu disikapi secara serius dan objektif. Interpretasi teologis sebagai jantung pluralisme diharapkan membangun kehidupan harmonis di Indonesia. Penulis mengajukan ide teologi harmonis diinspirasi harmonisasi sains dan agama melalui evolusi agama. Esensi teologi harmonis adalah menjembatani kesenjangan perbedaan agama secara harmonis. Pusat teologi harmonis terarah pada Kristus sebagai tokoh pendamai. Kristus mengharmoniskan relasi manusia dengan Allah, manusia dengan manusia maupun manusia dengan alam. Sekat pemisah dijembatani dalam prinsip teologi harmonis. Teologi harmonis memotivasi umat Kristen membangun komitmen dan penerimaan terhadap agama atau denominasi lain. Nilai kemanusiaan diutamakan dalam teologi harmonis. Semua agama bersinergi secara setara dan harmonis untuk membangun kemanusiaan dan seluruh ciptaan.

D.      Penutup
Perspektif evolusi menjadi titik pijak membangun pemikiran dan gerakan pluralisme. Teori evolusi sebagai produk sains difungsikan sebagai jembatan perekat pluralisme agama. Evolusi agama mengandung nilai positif untuk meminimalisasi potensi destruktif agama. Setiap agama memiliki garis relasi yang kontinyu dan konstruktif. Sisi universalitas agama menjadi titik temu yang merelasikan hangat perbedaan agama. Nilai moralitas menjadi penopang agama ditemukan dalam kajian evolusi agama. semua agama mesti berkomitmen dan mambangun kehidupan bersama yang harmonis.




DAFTAR PUSTAKA
Buku
Amstrong, K. The Great Transformation – The Beginning of Our Religion Traditions, New York : Knopf, 2006.
Atran, S. In Gods We Trust – The Evolutioner Lansdscape of Religion, New York : Oxford University Press, 2007.
Bell, Daniel, The End of Ideology : on the Exhaustion of Political Ideas in the Fifties, Glencoe : Free Press, 1960.
Broom, Donald, The Evolution of Morality and Religion, New York : Cambridge University Press, 2003.
Dawkins, Richard, The God Delusion, London : Bantam Press, 2006.
Dowd, Michael, Thanks God For Evolution, San Fransisco : Council Oak Books, 2007.
Fukuyama,  Francis The End of History and the Last Man, New York : Free Press, 1992.
Furseth, Inger & Repstal, Pal, An Introduction to the Sociology of Religion–Classical and Contemporary Perspectives, USA : Ashgate, 2006.
Kirkpatrick, Lee A., Attachement, Evolution and The Psychology of Religion, New York : The Guilford, 2005.
McClenon, J. Wondrous Healing : Shaminsm, Human Evolution and the Origins of Religion, DeKalb : Northern Illinois University Press, 2002.
Musacchio, Jose M., Contradictions Neuroscience and Religion, New York : Springer, 2012.
Winkelman, M. J. Shamans and Other “Magico-Religious” Healers : A Cross-Cultural Study of the Origins, Nature & Social Transformation, Westport :  Bergen & Garvey, 1990.
Wrigt, Robert, The Evolution of God, New York : Hachette Book Group, 2009.

Artikel
Djatikusumah, P. “Posisi Penghayat Kepercayaan Dalam Masyarakat Plural di Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta: Democracy Project, 2011.
Feierman, Jay R., “Introduction”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By Jay R. Fiereman, Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009.
________, “The Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009.
________, “How Some Major Component of Religion Could Have Evolved by Natural Selection?” dalam The Biological Evolution of Religious Mind and Behaviour’s, Heidelberg : Springer, 2009.
Hasan, Noorhadi “Multikulturisme dan Tantangan Radikalisme”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project, 2011.
Qodir, Zuly, “Kaum Minoritas dan Kebebasan Beragama di Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project, 2011.
Rachman, Budhy Munawar, “Kata Pengantar”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project, 2011.
Sanderson, Stephen K. “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological Contexts”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009.
Steadman, Lyle D., Palmer, Craig T. & Ellsworth, Ryan M. “Toward Testable Defenition of Religious Behaviour”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009.
Suseno, Frans Magnis Sj, “God Talk”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project, 2011.
Yewangoe, Andreas A. “Regulasi Toleransi dan Pluralisme Agama di Indonesia, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project, 2011.





[1]Jose M. Musacchio, Contradictions Neuroscience and Religion, (New York : Springer, 2012), h. 1
[2] Richard Dawkins, The God Delusion, (London : Bantam Press, 2006), h. 32
[4]Inger Furseth & Pal Repstal, An Introduction to the Sociology of Religion–Classical and Contemporary Perspectives, (USA : Ashgate, 2006), h. 4
[5] Lee A. Kirkpatrick, Attachement, Evolution and The Psychology of Religion, (New York : The Guilford, 2005), h. 1
[6] Donald Broom, The Evolution of Morality and Religion, (New York : Cambridge University Press, 2003), h. ix
[7] Michael Dowd, Thanks God For Evolution, (San Fransisco : Council Oak Books, 2007), h. vii-viii
[8] Ibid, h. 2
[9] Jay R. Feierman, “Introduction”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By Jay R. Feireman, h. xv
[10] Ibid, h. xvi
[11] Ibid, h xvii
[12] Lyle D. Steadman, Craig T. Palmer & Ryan M. Ellsworth, “Toward Testable Defenition of Religious Behaviour”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman (Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009), h. 29
[13]Ibid, h. 20-21
[14] Jay R. Feireman, “The Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman (Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009), h. 72
[15] Ibid, h. 31
[16] Jay R. Feireman, “How Some Major Component of Religion Could Have Evolved by Natural Selection?” dalam The Biological Evolution of Religious Mind and Behaviour’s, (Heidelberg : Springer, 2009), h. 52
[17] Ibid, h. 54
[18] Jay R. Feireman, “The Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman, h. 77
[19] Jay R. Feireman, “How Some Major Component of Religion Could Have Evolved by Natural Selection?” dalam The Biological Evolution of Religious Mind and Behaviour’s, h. 54
[20] Jay R. Feireman, “The Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman, h. 79
[21]Stephen K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological Contexts”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman (Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009), h. 3 - 5
[22] Ibid.
[23] Ibid, h. 4.
[24] Robert Wrigt, The Evolution of God, (New York : Hachette Book Group, 2009), h. 26
[25]Stephen K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological Contexts”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, h. 4
[26] Ibid, h. 5
[27] Ibid
[28]J. McClenon, Wondrous Healing : Shaminsm, Human Evolution and the Origins of Religion, (DeKalb : Northern Illinois University Press, 2002) h. 134
[29] M. J. Winkelman, Shamans and Other “Magico-Religious” Healers : A Cross-Cultural Study of the Origins, Nature & Social Transformation, (Westport :  Bergen & Garvey, 1990), h. 308
[30]Stephen K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological Contexts”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, h. 6
[31] Ibid
[32] Ibid, h. 7
[33] Ibid
[34] Robert Wrigt, The Evolution of God, h. 74
[35] K. Amstrong, The Great Transformation – The Beginning of Our Religion Traditions, (New York : Knopf, 2006), h. 20
[36] S. Atran, In Gods We Trust – The Evolutioner Lansdscape of Religion, (New York : Oxford University Press, 2007), h. 116
[37] Stephen K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological Contexts”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, h. 8
[38] Ibid, h. 9
[39] Ibid, h. 10
[40] Ibid, h. 11
[41] Ibid, h. 16 - 17
[42] Daniel Bell, The End of Ideology : on the Exhaustion of Political Ideas in the Fifties, (Glencoe : Free Press, 1960), h. 10
[43] Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man, (New York : Free Press, 1992), h. 12
[44] Noorhadi Hasan, “Multikulturisme dan Tantangan Radikalisme”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 198
[45] Zuly Qodir, “Kaum Minoritas dan Kebebasan Beragama di Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 390
[46]P. Djatikusumah, “Posisi Penghayat Kepercayaan Dalam Masyarakat Plural di Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 371-372
[47] Frans Magnis-Suseno Sj, “God Talk”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 67
[48] Budhy Munawar-Rachman, “Kata Pengantar”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. xxxi
[49] Andreas A. Yewangoe, “Regulasi Toleransi dan Pluralisme Agama di Indonesia, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 84 - 85
[50] Ibid, h. 83
[51] Frans Magnis-Suseno Sj, “God Talk”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, h. 68

Tidak ada komentar:

Posting Komentar