“Evolusi Agama”
(Kajian
Perkembangan Agama dari Perspektif Evolusi)
Abstract
Religion and religious practices have
existed throughout the human history and persist today in every corner of the
world. Explaining religion is a serious problem for any evolutionary account of
human thought and society. In most societies religion is a prime motivator of
both individual and collective behavior. Discipline of ethology which means
“the biology of behaviour’s” have been used to studying religion in this
articles. Ethology has approached the study of religion by using the theory of Evolution by natural selection of Charles Darwin. Using Darwinian Theory to understand religion
is finally becoming acceptable in both scientific and religious circles.The
Ethology is endeavoring to understand one important aspect of religion,
religious behaviour.
Keyword’s: Evolution, Religion,
Behaviour, Ethology, Adaptation, Natural Selection and Biology
A.
Pengantar
Agama berkembang
sejajar dengan sejarah peradaban manusia. Gerakan perubahan agama merupakan isu
penting diwacanakan pada abad ke-22. Agama berevolusi alami sesuai pergerakan
zaman di tengah benturan peradaban. Benturan menghasilkan produk agama sebagai
karya imajinatif manusia tentang Tuhan dalam waktu dan ruang tertentu. Agama
berkembang dari kemasan primitif menuju modern, dari politeis menuju monoteis.
Aliran pemikiran seputar agama juga berkembang dari agnostik, teisme, humanis,
atheis sampai pemikiran bebas. Agama seperti menjalani perziarahan panjang dengan rumusan bentuk dan konsep unik.
Tinjauan universalitas
kepercayaan agama dalam sejarah peradaban manusia ditemukan pengamatan penuh
teka-teki. Asumsinya, ada kompleksitas ide seputar arah pergerakan agama. Jose
M. Musacchio menganggap perkembangan agama berbanding terbalik dengan
perkembangan moral. Sejarah mencatat praktek agama berubah tetapi ajaran moral tetap
berdasar Golden Role. Ajaran yang
dikenal dalam ajaran Konfisius, beberapa abad sebelum hadirnya nabi-nabi
Kristen dan Islam. Agama besar telah
kehilangan universalitas karena terpisah dalam kelompok denominasi lebih kecil.
Kepercayaan agama beragam saling bertentangan dan mempertentangkan keutuhan
kebenaran”.[1]
Richard Dawkins
dalam ulasan tema Hipotesa Allah mempertanyakan
progresitas sejarah agama dari politeis di zaman primitif menuju monoteis di era
modern. Dawkins merujuk pada ide Ibn Warraq yang berasumsi provokatif bahwa
monoteis justru menghilangkan satu lagi allah menjadi atheis. Ensiklopedia Katolik bahkan tidak
mengakui politeis dan atheis.[2]
Pada sisi lain kaum agamawan dengan bangga mengakui sejarah agama berkembang
progresif dalam peradaban manusia. Beragam latar dan dinamika perkembangan
agama berpotensi menciptakan masalah pelik.
Penulis tertarik
membedah dinamika perkembangan agama dengan teori evolusi. Pada titik ini agama
dan sains bertemu harmonis, esensi masalah adalah agama dan sains sebagai
metode. Ibarat sains menawarkan jalan
menuju pada agama. Alasan logis, Pertama,
rasionalitas evolusi agama adalah jalan pengarah menemukan hakikat jantung
agama dalam peradaban manusia. Kedua, kesadaran
evolusi agama membangun penghayatan tentang signifikansi peran agama bagi peradaban
manusia dan seluruh ciptaan. Ketiga, kajian
evolusi agama menyadarkan pentingnya peran sains mensinergikan perbedaan agama
yang berpotensi konflik.
Pertanyaan
reflektif adalah apakah agama di era
modern mengalami kemunduran atau justru menghadapi kebangkitan? Apakah agama
mampu bertahan dalam perjumpaan dengan sains? Apakah agama-agama mampu
bersinergi di tengah realitas plural? Bagaimana sikap bijaksana agama di tengah
benturan nilai dalam peradaban manusia? Apakah agama dan sains mampu
berkontribusi bagi kemanusiaan? Pertanyaan reflektif mendorong penulis membedah
judul “Evolusi Agama”, Kajian
Perkembangan Agama dari Perspektif Evolusi. Hasil kajian direlevansikan
dengan realitas pluralisme agama di Indonesia.
B.
Kajian Evolusi
Agama
Perkembangan
agama dikaji dengan pendekatan multidisipliner oleh ilmuwan. Fokus ulasan pada
asal-usul lahir dan bertumbuhnya suatu agama. Studi agama dikategorikan dalam
dua tipikal yakni pendekatan tradisional dan kontemporer. Pendekatan tradisional
memakai disiplin ilmu teologi, psikologi, sosiologi dan antropologi budaya. Sementara
di era kontemporer hadir disiplin ilmu baru yang menyelidiki sejarah agama
secara berbeda. Pendekatan baru seperti psikologi evolusioner, ilmu kognitif,
antropologi kognitif dan filsafat pikiran mempelajari agama dengan hasil informatif
dan menarik. Disiplin ilmu baru umumnya mendekati studi agama dengan teori
evolusi yang diusung Charles Darwin (1809 – 1882).[3]
Secara tradisional
dikenal Inger Furseth, Pal Repstal, Kieran Flanagan dan Joshua A. Fishman
sementara pendekatan modern ada Donald Broom, Lee A. Kirckpatrick, Jose M.
Misacchio, Arthur Peaccocke dan Michael Dowd. Inger Furseth dan Pal Repstal
memakai pendekatan sosiologi, istilahnya teori sosiologi agama. Furseth dan
Repstal berpendapat “agama dibangun dari interaksi sosial antara pribadi dan
masyarakat. Pribadi menciptakan masyarakat, sebaliknya masyarakat membentuk
pribadi”.[4] Lee
A. Kirckpatrick memakai pendekatan psikologi agama membedah sejarah agama.
Dalam paradigma psikologi evolusioner, agama bukan sekedar adaptasi seleksi
alam tetapi merupakan koleksi sejumlah produk sistem psikologi yang dihasilkan dalam
sejarah manusia.[5]
Donald Broom dalam pendekatan biologis menyatakan dua ide agama yaitu: pertama, moral memiliki fondasi biologi sebagai
konsekuensi seleksi alam dari beragam spesies dan kedua, moral adalah struktur penopang esensial bagi agama.[6]
Penulis menyelidiki
agama dari teori evolusi sesuai pendekatan modern. Pertanyaan kritis, mungkinkah
teori evolusi sebagai produk sains dipakai membedah masalah agama?
Alasannya teori evolusi selalu dipertentangkan dengan agama. Kalangan Kristen
secara internal juga berdebat hangat tentang teori evolusi karena bersifat
kompleks. Orang Kristen konservatif umumnya menolak evolusi, karena dinilai
karya kompetetif yang tidak bermakna, kejam dan kurang bertuhan. Penolakan ini
diapresiasi positif, mendorong kaum teolog evolusioner menemukan cara sakral
mengkomunikasikan kepercayaan Kristen. Terbangun sikap ganda, pada sisi
spektrum teolog kaum konservatif menilai pandangan evolusi menjijikkan
sementara kaum liberal menyesal menerima teori evolusi.[7] Michael
Dowd menawarkan relasi positif agama dengan sains. Sejarah evolusioner mesti
direartikulasi agar metodenya diakui sakral kaum konservatif dan membanggakan
kaum liberal.[8]
Penulis mengapresiasi upaya Dowd mengharmoniskan relasi sains dan agama. Catatan
kritis, relasi mesti bersifat mutualis dan transformatif.
1.
Deskripsi Perilaku
Agama
a.
Pendekatan
Biologi Perilaku
Penulis memakai
disiplin ilmu ethologi artinya “biologi
perilaku” untuk menganalisa perilaku agama.
Perilaku agama menjadi fokus analisa
evolusi agama. Alasannya adalah: pertama,
teori biologi perilaku lahir dilatari upaya ilmuwan merelasikan agama dan
sains secara ramah. Kedua, jiwa teori
ini menyentuh pusat realitas agama. Teori biologi
perilaku berupaya mempelajari dua hal yakni: apakah agama berkontribusi
bagi kelangsungan hidup dengan memakai mekanisme kognitif dan apakah ajaran
agama membudaya dalam masyarakat.[9] Ketiga, teori biologi perilaku sebagai produk sains mampu menjembatani perbedaan
agama yang destruktif.
Studi perilaku
agama berupaya mempelajari fenomena agama bersumber dari realitas empiris.
Pendekatan ini meninjau agama secara luas melintasi waktu, budaya dan spesies,
kontras dengan metode umum diminati banyak orang. Orang cenderung memotret
agama secara dekat dan menekankan sebatas partikularitas agama. Pendekatan biologi perilaku mencari sisi
universalitas di balik partikularitas agama.[10]
Pendekatan ini
diperkenalkan oleh Niko Tinbergen (1907 – 1988). Dalam ethologi, langkah pertama memahami perilaku agama adalah mengamati dan memberi ciri dengan menggambarkan maupun mendefinisikan. Secara biologis, perilaku
dapat dicirikan dengan bentuk dan fungsi. Langkah
kedua, diajukan empat pertanyaan kunci yakni: apa arti sejarah evolusioner
perilaku? Kapan dan bagaimana perkembangan perilaku dalam kehidupan individu? Apa
penyebab mekanistik perilaku agama? Apakah nilai adaptif dari perilaku agama
atau dapatkah perilaku agama beradaptasi?[11]
Studi saintifik
perilaku agama dibatasi pada fenomena yang teridentifikasi oleh indera.
Hipotesa perilaku agama teruji dengan membangun korelasi di antara setiap
fenomena.[12]
Penulis menemukan sisi lemah teori ini karena hanya menyoroti realitas dari identifikasi
indera. Perilaku agama sifatnya kompleks dan tidak seluruhnya dapat diinderai.
Kepercayaan agama dari narasi fiktif tidak diakui objektivitasnya.
b.
Perilaku Agama
sebagai Fenomena Biologi
Studi saintifik
perilaku agama membutuhkan penelitian objektif, defenisi tepat dan skeptisisme
secara sehat. Studi perilaku agama sangat rumit karena bersifat paradoks.
Akurasi pernyataan agama tidak dapat dibuktikan secara empiris. Paradoksal
perilaku agama dibedah dengan rumusan defenisi tepat sesuai kenyataan dan bukan
metafora. Defenisi konseptual bertujuan mencirikan semua elemen untuk
memisahkan perilaku religius dan non religius. Langkah berikut dilakukan uji
hipotesa terhadap hasil kategorisasi. Tujuan studi adalah meningkatkan
pemahaman agama yang berkontribusi bagi kemanusiaan.[13]
Defenisi perilaku agama mengandung dua istilah kunci
yakni: perilaku dan agama. Perilaku secara biologis diidentifikasi
dengan indera melihat dan mendengar. Agama secara sederhana memiliki empat
unsur yakni: kepercayaan, nilai, suasana hati dan perasaan. Keempat unsur
direlasikan dengan kekuatan supernatural yang disebut “Tuhan” dan berkontribusi
membentuk perilaku agama.[14] Perilaku dan agama memiliki hubungan kausal yang diuji secara inderawi. Perilaku
agama adalah komunikasi penerimaan klaim supernatural disertai unsur-unsur
identifikasi perilaku yang layak sebagai agama.[15]
Secara biologi, evolusi
agama adalah proses seleksi alam yang berlangsung pada tingkat individu dan
kelompok sosial. Sejarah evolusi agama dibingkai dalam dua tipe adaptasi yakni:
filogenetik dan kultural. Filogenetik berasal dari kata filogeni artinya sejarah evolusioner. Adaptasi filogenetik terjadi
secara intra-individual, dimana pola struktur diwariskan melalui DNA (gen) dan meningkatkan
reproduksi pewaris gen dalam lingkungan spesifik. Sementara adaptasi kultural terjadi
secara intra atau ekstra individual, terhadap makhluk bernyawa maupun tidak bernyawa.
Pola struktur diwariskan melalui pembelajaran sosial dan meningkatkan
reproduksi pewaris gen dalam lingkungan tertentu.[16]
Dalam perspektif
ethologi, kategorisasi perilaku agama sejajar dengan tipe adaptasi terbagi atas
dua tipe, yakni:
Pertama, Tipe Perilaku I. Tipe perilaku I
didefenisikan sebagai struktur dan fungsi dalam lingkungan alam. Bentuk spesies
pada tipe ini bersifat universal dan terlihat pada semua binatang bertulang
belakang (vetebrata). Tipe ini memiliki dua ciri yakni: refleks dan koordinasi
motor pola. Koordinasi motor pola terbangun di antara perilaku manusia yang
refleks dan fleksibel. Perilaku manusia pada tipe ini yaitu: senyum manusia,
perilaku malu dan sikap patuh. Perilaku ini hanya dapat dimodifikasi melalui
waktu, orientasi dan fungsi. Perilaku diwariskan melalui gen yang mengalami
proses seleksi alam. Tipe perilaku I diwariskan dengan cara sama sebagai sturuktur
anatomi statis.[17]
Banyak tipe
perilaku I dipakai dalam agama seperti senyum, malu, takut dan sikap patuh. Zaman
kini tipe ini umumnya muncul di semua agama besar dunia dan beberapa agama
suku. Tipe ini terlihat pada aspek non vokal dari doa syafaat. Tipe perilaku I
memiliki banyak fungsi dalam sejarah evolusi agama yang panjang. Salah satu fungsi
tipe I adalah kepatuhan. Sikap patuh manusia memiliki banyak variasi. Tanda sikap
patuh adalah volume suara dikurangi dan sujud di bawah kuasa lebih tinggi
ketika berdoa. Kepatuhan ditandai dengan kepala merunduk atau dimiringkan.
Tanda takut tergambar pada wajah. Jika dalam ancaman serius, tanda kepatuhan
diwujudkan dengan sikap berlutut.[18]
Kedua, Tipe Perilaku II. Tipe perilaku ini
diuraikan dengan struktur dan fungsi dalam lingkungan alam. Bentuk spesies
tidak universal. Perilaku dimodifikasi dan ditransmisi melalui proses pembelajaran
sosial. Secara strategis perilaku manusia dimotivasi taktis sebagai hasil
produk pemikiran, kreativitas dan intelegensia yang tinggi. Bentuk perilaku
lain adalah bahasa simbolik yang diaktualisasi melalui vokalisasi atau tulisan.
Tipe II teramati secara relatif pada kelompok taksonomi seperti hewan primata,
mamalia laut dan burung tertentu. Perilaku adalah proses seleksi alam yang dimotivasi
jaringan kerja saraf tertentu. Proses seleksi berlangsung secara fleksibel dimana
perilaku direlasikan dan dikoordinasi dengan gen.[19]
Tipe Perilaku II
adalah perilaku yang dilatari “keinginan” membangun kedekatan atau keintiman.
Perilaku ini berupaya membangun kedekatan atau keintiman untuk memperoleh
perhatian Tuhan melalui ritual dan seremoni agama seperti: perkawinan,
baptisan, sunat, pemakaman dan seremoni penyembuhan. Perilaku ini tercermin
dalam beberapa aspek agama, diantaranya: pertama,
dimanfaatkan dalam doa syafaat. Kedua,
dipakai untuk menarasikan dan membaca
cerita sakral dalam bahasan lokal. Ketiga,
digunakan untuk menulis cerita sakral yang variatif dalam Kitab Suci
seperti Alkitab maupun Al-quran.[20]
2.
Analisa Sejarah
Evolusioner Perilaku Agama
Stephen
K. Sanderson[21]
mengulas latar historis evolusi agama. Sebagian besar penelitian cenderung fokus
pada evolusi sosial lain seperti demografi, teknologi, ekonomi dan politik dibanding
evolusi agama. Antropolog dan sosiolog yang tertarik mewacanakan evolusi agama
adalah Sir Edward Burnett Tylor (1832 – 1917) dan Hobert Spencer (1820 – 1903).
Ketertarikan ini bersifat sporadis karena sesudah ketiadaan mereka evolusi
agama tidak berkembang. Hal ini dilatari munculnya kritik evolusi sosial dari
antropolog Frans Boas dan mazhabnya maupun dominasi antropolog fungsionalis
Bronislaw Malinowski dan A. R. Radcliffe yang mengkritik evolusi agama.
Kebangkitan
evolusi agama ditindaklanjuti era kini oleh Roberth Bellah dan Anthony Wallace
yang memperkenalkan pola evolusi agama. Bellah mengkategorikan empat tahap pola
evolusi, yakni: pertama, agama
primitif yang ditemukan pada era kesukuan. Kedua,
agama kuno, seperti agama politeis kuno dari dunia lama dan baru. Ketiga, agama historis dikenal dengan
agama monoteis sebagai agama yang menyelamatkan dunia. Keempat, agama modern yakni agama di abad ke-20.[22]
Tipologi
ini direformulasi oleh Wallace.[23] Agama
masyarakat dibentuk dari institusi kultus. Institusi kultus adalah semua kultus
yang mempunyai tujuan sama, secara eksplisit dirasionalkan dan didukung
kelompok sosial yang sama. Wallace menggambarkan empat tipe institusi kultus yakni:
pertama, individualistis, setiap
individu menampilkan ritus pribadi. Kedua,
Shamanik, sebagian agama takhyul (shaman) menampilkan ritus kepada orang
lain. Ketiga, komunal, sekelompok
orang secara kolektif menampilkan ritus agama lain pada waktu tertentu. Keempat, gerejawi, imam memonopoli
pengetahuan agama dan menampilkan ritus khusus dihadapan komunitas.
Kombinasi
keempat institusi kultus membentuk empat tahap utama evolusi agama, yakni: shamanik, komunal, olimpian atau politeis dan monoteis. Penulis merujuk
pada pola evolusi agama yang diajukan Wallace, karena kategorisasi Wallace
bersifat holistik dan detail.
Agama Shamanik
Agama
shamanik merupakan kombinasi institusi kultus individualistik dan shamanik. Shaman, berasal dari bahasa Tungus,
masyarakat nomaden di Siberia, kadang-kadang diterjemahkan “seorang yang tahu”.[24]
Shaman biasanya hanya suatu praktek agama. Agama ini muncul terutama dalam
kumpulan masyarakat berburu dan diorganisasikan dalam komunitas suku. Murdokh
dan White melaporkan dalam Standar Sampel
Lintas Budaya bahwa 63% agama shamanik ditemukan pada kelompok masyarakat
berburu dan 83% di komunitas suku. Agama shamanik ditemukan umumnya di seluruh
dunia dan berkembang melalui tahap evolusioner. Agama shamanik ditetapkan
sebagai agama purba dan shaman adalah spesialis agama purba.[25]
Agama
shamanik percaya pada suara binatang, roh lokal dan dewa tinggi seperti Sedna “penjaga binatang laut”, matahari,
bulan dan roh di udara. Agama shamanik memiliki dua kultus individualistik
yakni kultus roh penolong dan kultus permainan binatang. Shaman diyakini mampu
mendiagnosa dan menyembuhkan penyakit sebagai kekuatan supernatural. Shaman percaya
pada beragam roh dan mengakui kekuatan kosmologi melekat pada binatang, iklim,
ruang dan waktu.[26]
Shaman menampilkan aktivitas beragam seperti: a) menyembuhkan dan memulihkan
penyakit, b) melindungi permainan binatang, c) berkomunikasi dengan kematian, d)
memulihkan jiwa yang hilang dan e) membebaskan manusia dari roh jahat.
Ritual
shamanik secara tipikal melakukan ritmik berulang seperti menari, bermain
tambur dan menyanyi.[27]Aktivitas
yang menyebabkan kehilangan kesadaran dan merupakan “pengalaman aneh”. Realitas
ini terindikasi sebagai sindrom shamanik yang
dicirikan dengan kemampuan hipnotis sebagai pengalaman aneh yang luar biasa.
Ada kesamaan menonjol antara praktek shamanik dengan perilaku agama di seluruh
dunia.[28] Berdasarkan
psikobiologi, kesamaan tradisi shamanik dengan realitas kini adalah hasil
penemuan difusi budaya.
Agama Komunal
Tergambar
etape evolusioner dari agama shamanik ke agama komunal lewat praktek ritus
keagamaan yang dilakukan. Secara evolutif, agama shamanik mengalami transisi ke
masyarakat agrikultural. Agama shaman bertahan di era kini dengan bentuk berbeda.
Shaman disebut sebagai penyembuh, penyihir dan dukun. Tipe penyembuh sekarang tidak
berbeda dengan shaman kuno. Keduanya melakukan aktivitas sama yakni menyembuhkan.[29] Praktek
penyembuhan dilanjutkan agama gerejawi melalui doktrin agama formal maupun
imam. Dalam masyarakat industri, agama penyembuhan secara menonjol berasal dari
shaman kuno berbentuk “Penyembuh Iman.”[30]
Berdasarkan
data Standar Sampel Lintas Budaya, agama
komunal sebagian besar diminati masyarakat agrikultur. Agama komunal juga
ditemukan dalam komunitas suku sekitar 52%. Agama komunal mempraktekkan
institusi kultus individualistik, shaman dan komunal. Secara praktis, komunitas
masyarakat datang bersama-sama dan terlibat dalam ritus kolektif tertentu.
Contohnya, orang Trobriander, suku yang terkenal dari pulau Melanesia. Institusi
kultus komunal yang dipraktekkan kultus
teknologi magic. Dalam tradisi ini, orang-orang mengadakan ritual kolektif
dipimpin magician kebun. Orang-orang
Trobriander juga mempunyai kultus roh kematian dalam pelayanan pemakaman.[31]
Beberapa
kemampuan sakral penduduk suku Trobriander adalah: pertama, mampu menyebabkan atau menyembuhkan penyakit. Kedua, mempunyai kekuatan magis untuk membantu
dan melindungi dari roh dengki, sihir maupun roh jahat lain. Dimensi lain agama
komunal adalah penyembahan leluhur. Roh leluhur yang mati adalah entitas
supernatural dalam agama ini. Komunitas ini respek terhadap leluhur seperti
kehidupan dan kematian. Sebagai figur otoritatif, kehidupan leluhur adalah
sumber berkat dan hukuman.[32] Ritus
keagamaan komunal memiliki kesamaaan dengan kultus agama lain di era kini yang melakukan
ritus penyembuhan dan penyembahan leluhur dalam kemasan bentuk berbeda.
Agama Olimpian/ Politeis
Olimpian
adalah istilah yang diadopsi Wallace dari Yunani kuno untuk menyebut politeisme
agama. Data Standar Sampel Linta Budaya
mencatat, mayoritas agama olimpian
atau politeis sekitar 50% ditemukan pada masyarakat agrikultur secara intensif.
Agama politeis ditemukan sekitar 42% juga pada masyarakat agrikultur luas. Agama
politeis mempunyai panteon khususnya
dewa dan imam profesional yang memonopoli pengetahuan agama maupun memimpin
pelaksanaan ritual.[33]
Dalam
politeisme primitif, para dewa disamakan dengan manusia dan alam. Dewa digambarkan variatif yakni orang baik, jahat
maupun bodoh. Para dewa biasanya makan dan minum bahkan sering melakukan pesta
besar, menyukai seks maupun berpesta pora. Para dewa juga berjuang dan pergi perang.
Dewa politeisme seperti manusia sifatnya terbatas dan fana, dapat dibunuh
maupun dimakan. Praktek politeisme sangat kuat bertumbuh di masyarakat Israel
kuno. Kekuatan alam dapat dihuni oleh para dewa.[34]
Ciri
agama politeis lain, praktek ritualistik menggunakan korban binatang. Cara ini
diklaim sebagai ciri universal agama politeis. Antropolog Marvin Harris
(1927-2001) berkomentar “Persia, Weda Brahmana, Cina, dan Jepang umumnya
melakukan ritual pengorbanan hewan peliharaan. Sangat sulit menemukan
masyarakat tunggal di seluruh Eroasia dan Afrika Utara dimana ritus korban
hewan peliharaannya tidak didukung negara.”[35] Hewan
peliharaan yang dipakai dalam ritus korban lebih dihargai. Hewan peliharaan
lebih dihargai karena difungsikan dalam ritus korban. Sebaliknya hewan liar
kurang dihargai karena jarang dipakai dalam ritus korban dan disediakan bebas dari
alam.[36]
Agama
politeis sangat terkenal ada di Sumeria dan Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi
kuno, Maya Aztec dan Inca. Terindikasi ada dua tipe evolusioner agama politeis berbeda.
Agama politeis awalnya banyak bertumbuh di masyarakat agrikultur luas yang
diorganisasikan dalam suku dan negara kecil. Contoh, Ashanti dari Afrika Barat
yang terorganisir secara politik dalam negara. Orang Ashanti menyembah sosok
super yang dikenal dengan Nyame. Nyame adalah dewa langit yang diakui jauh dari
dunia dan menentukan langsung takdir manusia.[37]
Agama
politeis kemudian berkembang dalam masyarakat agrikultur secara intensif. Agama
politeis ada di Asia Timur yakni orang Arya. Orang Arya mempercayai banyak dewa,
terutama empat dewa: Indra, dewa perang dan cuaca; Varuna, mempertahankan
moralitas dan tatanan sosial; Agni, dewa api berhubungan dengan para imam yang
melakukan ritual dengan api dan Soma, dewa tanaman. Dewa ini merupakan bagian integral
kultus korban.[38]
Dewa politeis Arya menunjukkan bahwa masyarakat Arya melakukan aktivitas
agrikultur secara intensif.
Agama Monoteis
Secara
historis agama monoteis muncul selama periode yang dikenal “era aksial”, sekitar
600 BC–1 AD. Pada era ini Yudaisme berubah menjadi monoteisme, menyembah satu
Allah Yahwe yang benar dan muncul Hinduisme maupun Budhisme di India serta
Konfisius di Cina. Pada tahap berikut muncul Laozi dan taoisme di Cina.
Beberapa ratus tahun kemudian kekristenan keluar dari Yudaisme sebagai hasil
gerakan mesianik. Islam adalah agama
monoteis besar yang terakhir terbentuk, diikuti sebagian orang asing
yang menghadirkan sekte kristiani. Kendati berubah menjadi Kristen pada abad 1
AD, sebagian besar orang hidup di area kota. [39]
Orang
Asia Barat yang mengembangkan Yudaisme, Kristen dan Islam memiliki tiga ciri
yakni agrikulturalis intensif, pastoralis dan kombinasi keduanya. Orang Asia
Timur mengembangkan Hinduisme, Budhisme, konfisiusme dan Taoisme. Bertolak dari
sejarah evolusi, Sanderson[40]
mengajukan beberapa hal baru agama dunia yang tersebar di era aksial, yakni :
1.
Dalam
agama politeis, beragam dewa diyakini memiliki karakteristik dan keinginan
seperti manusia. Allah monoteis adalah Allah transenden yang tidak sama dengan
manusia. Allah yang Maha Hadir, Maha Tahu dan Maha Kuasa.
2.
Agama
monoteis menekankan keselamatan dunia dan kemurahan serta kasih Allah.
3.
Peningkatan
dratis monoteisme baru menghadirkan gambaran potensi Allah untuk mengendalikan,
menuntut dan menghukum. Unsur-unsur menghukum umumnya tergambar di agama-agama
pra-aksial.
4.
Doktrin
agama menjadi lebih rumit.
5.
Ada
kemunduran tajam tentang pengorbanan binatang.
6.
Agama
monoteis mengintensifkan kontrol imam terhadap ritual agama dan berfungsi lebih
berkuasa dibanding imam pada agama politeis
Analisa Evolusi Agama
Penulis merujuk
pada ide Jay R. Feireman yang dikutip Sanderson untuk menganalisa evolusi
agama. Fenomena evolusioner agama bersifat ganda yakni secara biologis dan sosial.
Winkelman dan James McClenon mengomentari shamanisme didasari oleh neuoropsikologi. McClenon memberi
skenario logis tentang bagaimana ritual shamanik berevolusi dalam lingkungan
leluhur manusia sekitar 30.000 tahun lalu. Pada era kini beberapa ahli mencatat
sejumlah kesamaan mencolok antara ritual agama dengan gangguan emosial yang
disebut Gangguan Obsesif Kompulsif. “Modul
ritual” pada otak diduga sangat kuat mempengaruhi manusia terlibat dalam ritual
agama kolektif. Gangguan Obsesif Kompulsif
dinilai sebagai bentuk patologi individu yang menghasilkan sikap
hiperaktif. [41]
Secara biologis,
beragam jenis aktivitas agama dihasilkan dari ethologi manusia. Jika
impulsif agama didasari secara biologis, impulsif sangat besar dipengaruhi konteks
sosio-ekologi dimana manusia hidup. Jadi, agama berevolusi secara sosial
melalui tahap umum, dari era shamanik ke komunal, komunal ke politeistik dan
politeistik ke monoteistik. Evolusi agama tidak berakhir dengan kemunculan
agama monoteistik, agama keselamatan dunia. Agama monoteistik mengalami
perubahan sepanjang waktu. Kendati hasil evolusi agama tetap berbentuk
monoteistik tetapi tidak ada tahap akhir evolusi agama. Transendensi agama
monoteistik bukan tahap akhir evolusi agama. Proses evolusi agama berlangsung
mengikuti gerakan peradaban sejarah manusia.
Sosiolog Daniel
Bell mendeklarasikan pada tahun 1960 bahwa kita akan melihat “akhir ideologi”.[42] Ilmuwan
politik Francis Fukuyama mengklaim, dengan kapitalisme liberal modern kita
mencapai “akhir sejarah”.[43] Argumentasi
ini menegaskan, perbedaan agama diabaikan berarti mengakhiri sejarah evolusi
agama. Dalam perbedaan agama ditemukan nilai universalitas agama yakni dasar
moralitas. Tidak ada alasan mengunggulkan agama satu dan merendahkan agama
lain. Setiap agama memiliki garis relasi sejarah yang berkesinambungan dengan
bentuk dan konsep berbeda. Ibarat kita menempuh tujuan satu dengan cara dan
jalan berbeda.
Setiap agama menawarkan
hanya satu cara dan jalan moralitas tentang Tuhan maupun kemanusiaan. Pemutlakan
jalan agama tertentu sebagai kebenaran utama, bukan solusi bijak. Kebenaran
suatu agama dimutlakkan berarti mereduksi dan menutup penemuan jalan moralitas
lain. Jalan berbeda tidak menggiring pada perpecahan destruktif tetapi semakin
memperkaya dan memperkuat moralitas.
C.
Relevansi dalam
Konteks Indonesia
Kajian evolusi
agama adalah perspektif alternatif untuk menjembatani keterpisahan agama yang
destruktif. Fokus sejarah evolusioner agama untuk menemukan nilai universalitas
agama. Pada bagian ini, kajian evolusi agama sebagai produk sains difungsikan
ganda, yakni: pertama, memotret
realitas beragama di Indonesia dan kedua,
ditawarkan reartikulasi teologi menyikapi perbedaan agama. Potret
pluralisme agama di Indonesia sarat dengan kompleksitas masalah. Realitas
faktual menegaskan sisi ambivalensi agama. Pada satu sisi berkontribusi bagi
kemanusiaan tetapi sisi lain menyulut tindakan dehumanisasi. Sejumlah kompleksitas
masalah agama yang destruktif dan disintegratif adalah:
1.
Indonesia
sebagai bangsa majemuk tidak luput dari ancaman perpecahan maupun konflik bernuansa
primordial. Dalam catatan sejarah, sejumlah konflik komunal terjadi di
Indonesia, diantaranya: di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Maluku dan
Sulawesi Tengah. Peristiwa penyerangan
aliran kelompok Sufi di Sukabumi, Jawa Barat, penyerbuan kelompok Syiah di
Sampang, Madura dan pembakaran pondok pesantren di Depok, Jawa Barat juga
termasuk daftar konflik yang memprihatinkan. Konflik telah merenggut ribuan
nyawa dan mengguncang fondasi struktur kebangsaan yang diletakkan founding father. Menariknya, intensitas
konflik bergerak paralel dengan menguatnya simbol dan identitas keagamaan dari
gelombang radikalisme yang terjadi pada satu dekade terakhir. Wacana
eksklusivitas dan aksi kekerasan yang ditebarkan menggerogoti nafas pluralisme di
Indonesia.[44]
2.
Persoalan kaum minoritas dan mayoritas di Indonesia
sampai sekarang menjadi perdebatan serius di antara penganut paham teologi
semitik. Satu pihak menghendaki persoalan mayoritas-minoritas harus diakhiri dengan
debat lebih substansial tentang apa yang
akan diperbuat oleh negara untuk kaum minoritas-mayoritas dan apa yang harus dilakukan kaum
mayoritas-minoritas di Indonesia. Debat ini penting, karena keberadaan kaum
mayoritas-minoritas adalah realitas sosial yang tidak bisa terabaikan. Pada
pihak lain terdapat kelompok yang tetap mempertahankan pandangan, kaum
mayoritas harus diberikan hak “lebih” ketimbang kaum minoritas. Alasannya, kaum
mayoritas lebih berkontribusi bagi negara dibanding kaum minoritas.[45]
3.
Agama asli nusantara yang hadir di Indonesia sebelum
masuknya agama “resmi versi pemerintah” hampir punah. Banyak kalangan
masyarakat Indonesia yang melupakan agama atau kepercayaan asli sebagai
kearifan lokal, seperti agama Sunda “Wiwitan”, yang kini tersisi pada etnis
Baduy di Kenekes (Banten); di Cigugur Kuningan, dikenal agama “Buhun”;
“Kejawen” di Jawa Tengah dan Jawa Timur; Agama “Parmalin” sebagai agama asli
Batak; agama “Kaharingan” di Kalimantan; “Tonaas Walian” di Minahasa, Sulawesi
Utara; “Tolottang” di Sulawesi Selatan; “Wetu Telu” di Lombok dan agama “Naulu”
di Pulau Seram-Maluku. Agama-agama asli umumnya didegradasi sebagai ajaran
animisme, penyembah berhala atau dipahami hanya sebagai aliran kepercayaan.
Masa sekarang, penganut agama dan kepercayaan asli tidak diakui di Indonesia
sebagai agama. Penganutnya tidak diberikan hak layak dalam kehidupan berbangsa
seperti tidak tercatat dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), akte kelahiran maupun
pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil. Kelompok penganut agama asli
umumnya berada di pedalaman dan terdiskriminasi, dicatat hanya sebagai
“penghayat kepercayaan murni dan tidak murni.”[46]
Agama asli memiliki kekayaan kearifan lokal yang berkontribusi bagi harmonisasi
agama.
Kajian evolusi agama menawarkan pikiran solutif terhadap kompleksitas
masalah agama yakni:
Pertama, evolusi agama mengukuhkan pengakuan perbedaan agama. Produk agama tidak
terbentuk independen tanpa pengaruh agama lain. Agama berevolusi secara
kontinyu dan berkontribusi bagi agama baru. Sikap triumfalistik agama mereduksi
kekayaan nilai evolusi agama. Agama tidak diposisikan hierarkis, superior-subordinat,
sebaliknya setara. Perbedaan agama dan antara denominasi agama tidak
membatalkan hak maupun kewajiban penganut agama menyakini kebenaran agamanya.
Klaim kebenaran agama diakui tetapi tidak dimutlakkan sebagai kebenaran
universal.[47]Budhy Munawar-Rachman
mengutip ide Djohan Effendy berkomentar “dari tiap agama kita bisa mengambil
mutiara kerohanian yang memperluas cakrawala keagamaan kita”.[48]
Kenyataan pluralisme agama tidak sekedar diwacanakan, tetapi mesti terungkap
benar dalam sikap bersama. Kebutuhan utama adalah menemukan the matrix of meaning dari kepelbagian
agama. Nilai-nilai bersama yang universal ditemukan sebagai rujukan bersama penganut
agama mengupayakan kesejahteraan manusia. Nilai moralitas yang universalitas adalah
cinta kasih. Cinta kasih adalah pancaran Allah yang Rahmani dan Rahimi.[49]
Agama asli-pun mesti diberi ruang penghargaan karena memiliki nilai kearifan
lokal yang memperkaya relasi pluralisme di Indonesia.
Kedua, evolusi agama mengedepankan pentingnya nilai kerukunan antar dan inter
umat beragama. Kerukunan adalah sikap yang terlahir dari lubuk hati terdalam,
terpancar dari kemauan berinteraksi satu sama lain sebagai manusia. Kerukunan
dibangun tanpa tekanan pihak manapun. “Rukun” secara etimologis berasal dari
kata tiang atau pilar, artinya setiap anggota masyarakat berfungsi saling
menopang agar rumah bersama tidak runtuh. Semua orang mengemban fungsi penting
menguatkan dan meneguhkan rumah bersama.[50]
Kerukunan agama dapat tercipta melalui sikap rendah hati. Agamawan yang semakin
religius, tahu dan sadar akan Yang Ilahi menjadi pribadi yang rendah hati.
Setiap penganut agama mesti sadar mereka membawa harta wahyu ilahi dalam wadah
yang mudah pecah, “wadah pengertian dan tradisi manusiawi”. Iman mesti
dibicarakan secara rendah hati. Bicara dengan rendah hati adalah prasyarat
kesejatian wacana tentang Ilahi. Kerendahan hati adalah syarat kredibilitas
wacana tentang Tuhan. Agamawan yang tidak rendah hati memberi citra buruk pada
agama.[51]
Ketiga, pluralisme
agama merupakan isu krusial di Indonesia yang perlu disikapi secara serius dan
objektif. Interpretasi teologis sebagai jantung pluralisme diharapkan membangun
kehidupan harmonis di Indonesia. Penulis mengajukan ide teologi harmonis
diinspirasi harmonisasi sains dan agama melalui evolusi agama. Esensi teologi
harmonis adalah menjembatani kesenjangan perbedaan agama secara harmonis. Pusat
teologi harmonis terarah pada Kristus sebagai tokoh pendamai. Kristus mengharmoniskan
relasi manusia dengan Allah, manusia dengan manusia maupun manusia dengan alam.
Sekat pemisah dijembatani dalam prinsip teologi harmonis. Teologi harmonis
memotivasi umat Kristen membangun komitmen dan penerimaan terhadap agama atau
denominasi lain. Nilai kemanusiaan diutamakan dalam teologi harmonis. Semua
agama bersinergi secara setara dan harmonis untuk membangun kemanusiaan dan
seluruh ciptaan.
D.
Penutup
Perspektif
evolusi menjadi titik pijak membangun pemikiran dan gerakan pluralisme. Teori evolusi sebagai produk sains
difungsikan sebagai jembatan perekat pluralisme agama. Evolusi agama mengandung
nilai positif untuk meminimalisasi potensi destruktif agama. Setiap agama
memiliki garis relasi yang kontinyu dan konstruktif. Sisi universalitas agama
menjadi titik temu yang merelasikan hangat perbedaan agama. Nilai moralitas
menjadi penopang agama ditemukan dalam kajian evolusi agama. semua agama mesti berkomitmen
dan mambangun kehidupan bersama yang harmonis.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Amstrong, K. The Great Transformation – The Beginning of
Our Religion Traditions, New York : Knopf, 2006.
Atran, S. In Gods We Trust – The Evolutioner
Lansdscape of Religion, New York : Oxford University Press, 2007.
Bell, Daniel, The End of Ideology : on the Exhaustion of
Political Ideas in the Fifties, Glencoe : Free Press, 1960.
Broom, Donald, The Evolution of Morality and Religion, New
York : Cambridge University Press,
2003.
Dawkins,
Richard, The God Delusion, London :
Bantam Press, 2006.
Dowd, Michael, Thanks God For Evolution, San Fransisco
: Council Oak Books, 2007.
Fukuyama, Francis The
End of History and the Last Man, New York : Free Press, 1992.
Furseth, Inger
& Repstal, Pal, An Introduction to
the Sociology of Religion–Classical and Contemporary Perspectives, USA :
Ashgate, 2006.
Kirkpatrick, Lee
A., Attachement, Evolution and The
Psychology of Religion, New York : The Guilford,
2005.
McClenon, J. Wondrous Healing : Shaminsm, Human Evolution
and the Origins of Religion, DeKalb : Northern Illinois University Press,
2002.
Musacchio, Jose
M., Contradictions Neuroscience and
Religion, New York : Springer, 2012.
Winkelman, M. J.
Shamans and Other “Magico-Religious”
Healers : A Cross-Cultural Study of the Origins, Nature & Social
Transformation, Westport : Bergen
& Garvey, 1990.
Wrigt,
Robert, The Evolution of God, New
York : Hachette Book Group, 2009.
Artikel
Djatikusumah, P.
“Posisi Penghayat Kepercayaan Dalam Masyarakat Plural di Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By.
Elza Peldi Taher, Jakarta: Democracy Project, 2011.
Feierman, Jay
R., “Introduction”, dalam The Biology of
Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By
Jay R. Fiereman, Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009.
________, “The
Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith
and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman Oxford
: Greenwood Publishing Group, 2009.
________, “How
Some Major Component of Religion Could Have Evolved by Natural Selection?” dalam The Biological Evolution of Religious Mind and Behaviour’s, Heidelberg
: Springer, 2009.
Hasan, Noorhadi
“Multikulturisme dan Tantangan Radikalisme”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta :
Democracy Project, 2011.
Qodir, Zuly,
“Kaum Minoritas dan Kebebasan Beragama di Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By.
Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project, 2011.
Rachman, Budhy
Munawar, “Kata Pengantar”, dalam Merayakan
Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project,
2011.
Sanderson,
Stephen K. “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological Contexts”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith
and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman Oxford : Greenwood Publishing Group,
2009.
Steadman, Lyle
D., Palmer, Craig T. & Ellsworth, Ryan M. “Toward Testable Defenition of
Religious Behaviour”, dalam The Biology
of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed.
By. Jay R. Feierman Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009.
Suseno, Frans
Magnis Sj, “God Talk”, dalam Merayakan
Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, Jakarta : Democracy Project,
2011.
Yewangoe, Andreas
A. “Regulasi Toleransi dan Pluralisme Agama di Indonesia, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi
Taher, Jakarta : Democracy Project, 2011.
[1]Jose
M. Musacchio, Contradictions Neuroscience
and Religion, (New York : Springer, 2012),
h. 1
[2]
Richard Dawkins, The God Delusion, (London
: Bantam Press, 2006), h. 32
[3]Jay R. Feierman, “Introduction”, dalam The Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith
and Religion, Ed. By Jay R. Feireman, (Oxford : Greenwood Publishing
Group, 2009), h. xv
[4]Inger
Furseth & Pal Repstal, An Introduction
to the Sociology of Religion–Classical and Contemporary Perspectives, (USA
: Ashgate, 2006), h. 4
[5]
Lee A. Kirkpatrick, Attachement,
Evolution and The Psychology of Religion, (New York : The Guilford, 2005),
h. 1
[6]
Donald Broom, The Evolution of Morality
and Religion, (New York : Cambridge University Press, 2003), h. ix
[7]
Michael Dowd, Thanks God For Evolution, (San
Fransisco : Council Oak Books, 2007), h. vii-viii
[8]
Ibid, h. 2
[9]
Jay R. Feierman, “Introduction”, dalam The
Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed.
By Jay R. Feireman, h. xv
[10]
Ibid, h. xvi
[11]
Ibid, h xvii
[12]
Lyle D. Steadman, Craig T. Palmer & Ryan M. Ellsworth, “Toward Testable
Defenition of Religious Behaviour”, dalam The
Biology of Religious Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion,
Ed. By. Jay R. Feierman (Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009), h. 29
[13]Ibid,
h. 20-21
[14]
Jay R. Feireman, “The Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The
Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman (Oxford
: Greenwood Publishing Group, 2009), h. 72
[15]
Ibid, h. 31
[16] Jay
R. Feireman, “How Some Major Component of Religion Could Have Evolved by
Natural Selection?” dalam The Biological
Evolution of Religious Mind and Behaviour’s, (Heidelberg : Springer, 2009),
h. 52
[17]
Ibid, h. 54
[18] Jay
R. Feireman, “The Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The
Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman, h. 77
[19] Jay
R. Feireman, “How Some Major Component of Religion Could Have Evolved by
Natural Selection?” dalam The Biological
Evolution of Religious Mind and Behaviour’s, h. 54
[20] Jay
R. Feireman, “The Evolutionary History of Religious Behaviour’s” dalam The Biology of Religious Behaviour–The
Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R. Feierman, h. 79
[21]Stephen
K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological
Contexts”, dalam The Biology of Religious
Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, Ed. By. Jay R.
Feierman (Oxford : Greenwood Publishing Group, 2009), h. 3 - 5
[22]
Ibid.
[23]
Ibid, h. 4.
[25]Stephen
K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological
Contexts”, dalam The Biology of Religious
Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, h. 4
[26]
Ibid, h. 5
[27]
Ibid
[28]J.
McClenon, Wondrous Healing : Shaminsm,
Human Evolution and the Origins of Religion, (DeKalb : Northern Illinois
University Press, 2002) h. 134
[29]
M. J. Winkelman, Shamans and Other
“Magico-Religious” Healers : A Cross-Cultural Study of the Origins, Nature
& Social Transformation, (Westport :
Bergen & Garvey, 1990),
h. 308
[30]Stephen
K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological
Contexts”, dalam The Biology of Religious
Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, h. 6
[31]
Ibid
[32]
Ibid, h. 7
[33]
Ibid
[34]
Robert Wrigt, The Evolution of God, h.
74
[35]
K. Amstrong, The Great Transformation –
The Beginning of Our Religion Traditions, (New York : Knopf, 2006), h. 20
[36] S.
Atran, In Gods We Trust – The Evolutioner
Lansdscape of Religion, (New York : Oxford University Press, 2007), h. 116
[37] Stephen
K. Sanderson, “The Evolution of Religious Behaviours in It’s Socioecological
Contexts”, dalam The Biology of Religious
Behaviour–The Evolutionary Origins of Faith and Religion, h. 8
[38] Ibid,
h. 9
[39]
Ibid, h. 10
[40]
Ibid, h. 11
[41]
Ibid, h. 16 - 17
[42]
Daniel Bell, The End of Ideology : on the
Exhaustion of Political Ideas in the Fifties, (Glencoe : Free Press, 1960), h. 10
[43]
Francis Fukuyama, The End of History and
the Last Man, (New York : Free Press, 1992), h. 12
[44]
Noorhadi Hasan, “Multikulturisme dan Tantangan Radikalisme”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By.
Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 198
[45]
Zuly Qodir, “Kaum Minoritas dan Kebebasan Beragama di Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan Beragama, Ed. By.
Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 390
[46]P.
Djatikusumah, “Posisi Penghayat Kepercayaan Dalam Masyarakat Plural di
Indonesia”, dalam Merayakan Kebebasan
Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h.
371-372
[47]
Frans Magnis-Suseno Sj, “God Talk”, dalam Merayakan
Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project,
2011), h. 67
[48] Budhy
Munawar-Rachman, “Kata Pengantar”, dalam Merayakan
Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project,
2011), h. xxxi
[49]
Andreas A. Yewangoe, “Regulasi Toleransi dan Pluralisme Agama di Indonesia,
dalam Merayakan Kebebasan Beragama,
Ed. By. Elza Peldi Taher, (Jakarta : Democracy Project, 2011), h. 84 - 85
[50]
Ibid, h. 83
[51] Frans
Magnis-Suseno Sj, “God Talk”, dalam Merayakan
Kebebasan Beragama, Ed. By. Elza Peldi Taher, h. 68
Tidak ada komentar:
Posting Komentar