Rabu, 03 September 2014

Budaya Maluku di Persimpangan

 ”Budaya Maluku di Persimpangan”
(Tafsiran Daniel 1 : 9 – 21 dan Relevansinya bagi Kehidupan Berbudaya di Maluku)

 


I.         PENGANTAR
Sejarah kebudayaan Maluku terkonstruksi dari berbagai proses interaksi sosial. Interaksi sosial diakui mempunyai andil membentuk karakter kebudayaan masyarakat yang heterogen, karena tidak ada satu kebudayaanpun yang murni dan steril. Kebudayaan selalu merupakan proses sinkretisasi dan interpretasi dari sejumlah unsur budaya itu sendiri. Dalam sejarah Maluku, kolonialisasi dan neo-kolonialisasi menimbulkan banyak konflik kultural dalam kehidupan masyarakat. Sejarah mencatat bahwa masuknya lembaga zending di zaman kolonial ke Maluku telah menanamkan begitu kuat pengaruh bentukan budaya Barat (Belanda) terhadap esensi kebudayaan lokal. Proses asimilasi budaya barat dan lokal  di masa lampau dengan sendirinya mempengaruhi produk budaya di Maluku baik isi maupun tata caranya hingga kini.[1] Budaya Maluku seakan ada di persimpangan dan perlu diberi tempat dan nilai yang proporsional agar berkontribusi membangun identitas masyarakatnya.
Proses kolonialisasi yang berlangsung di Maluku selama beberapa abad memberi kontribusi siginfikan bagi pembentukan identitas “orang Maluku”. Kolonialisasi yang diikuti dengan aktivitas “kristenisasi” masyarakat lokal menjadi sebuah interaksi kebudayaan “superior” dan kebudayaan “inferior”. Realita yang tak terhindarkan adalah muncul “ambivalensi budaya”. Sikap ambivalensi terbangun dari pihak masyarakat bekas jajahan terhadap pihak bekas penjajah. Pada satu sisi ada rasa benci karena luka sejarah di masa lampau, tetapi sisi lain ada rasa kagum karena melihat pengaruh superioritas. Realitas ambivalensi masuk dalam ranah budaya dan identitas termasuk meluas ke hubungan antar subjek dalam relasi kuasa yang tak setara. [2]Budaya barat diakui modernitasnya dan disanjung tapi pada sisi lain ada kecaman terhadap budaya barat yang dianggap mereduksi budaya lokal. Krisis budaya menjadi kenyataan yang tak terelakkan.
Realitas krisis budaya diatas membutuhkan sumbangan pikiran dan  kritik teologi yang mampu membaca ulang fenomena ini secara objektif. Penulis mendekati kebutuhan ini dengan melakukan penafsiran kontekstual terhadap Daniel 1 : 9 – 21 dalam perspektif Post-kolonial. Konteks sosio-historis Kitab Daniel, dilatari zaman penjajahan umat Yahudi dibawah kekuasaan Raja Siria Antiokhus IV pada tahun 165 SM. Kitab ini mengkisahkan perjuangan tokoh Daniel sebagai orang buangan yang berdiaspora di Babilonia untuk mempertahankan identitas politik, agama dan budaya ditengah tekanan imprealisme. Realitas kolonialisme dengan berbagai dinamikanya cukup kuat terwakili dalam kitab ini. Penulis melihat ada kesejajaran realitas antara Kitab Daniel dan konteks Maluku yakni ancaman krisis kebudayaan dibawah pengaruh kolonialisme.
Perspektif post-kolonialisme merupakan studi kritik yang tepat untuk menggali kekayaan nilai teologis teks dan konteks tentang “krisis budaya”. Post-kolonial dikategorikan sebagai metodologi dan tindakan kritik terhadap ideologi pemikiran kolonialisme. Pemikiran post-kolonial memiliki dua aspek, yakni : pertama, menganalisa keragaman strategi penjajah yang terkonstruksi dalam gambaran pihak yang terjajah. Kedua, menstudikan bagaimana pihak yang terjajah menggunakan strateginya sendiri untuk mengartikulasikan identitas, harga diri dan kekuasaan sebagai pihak yang terjajah. Konkritnya, perspektif post-kolonial terbangun dari dua sudut pandang yakni pihak penjajah dan pihak yang dijajah.[3]

II.      TAFSIRAN DANIEL 1 : 9 – 21
Kitab Daniel secara gamblang mengkisahkan tentang kehidupan tokoh Daniel dan sahabat-sahabatnya sebagai orang yahudi yang hidup di masa pembuangan Babilonia abad ke-6 SM. Para ahli menemukan bahwa kitab ini ditulis jauh sesudah masa pembuangan Babilonia yakni pada masa pemerintahan Raja Siria Anthiokhus Epifanes IV abad ke-2 SM, tepatnya tahun 165 SM ketika menguasai Yerusalem. Pembuktiannya adalah :
a.         Gaya bahasa Ibrani dan bahasa Aram yang dipakai dalam kitab Daniel sesuai dengan abad kedua dibanding abad keenam SM. Misalnya kata “kasdim” menunjuk abad ke-6 kepada suatu bangsa di negeri Babel bagian selatan tetapi dalam kitab Daniel pada suatu kelompok imam atau peramal khusus (bnd. Daniel 4 : 1).[4]
b.         Pengetahuan penyusun kitab Daniel tentang zaman pembuangan orang-orang Israel pada abad keenam sangat terbatas dan tidak tepat. Ada catatan sejarah  terkait waktu cerita yang tidak akurat. Misalnya, tidak pernah disebutkan dalam sumber Babel bahwa Nebukadnezar pernah menyerang Yerusalem dan Nebukadnezar belum secara resmi memerintah sampai tahun keempat pemerintahanYoyakhim (Bnd. Daniel 1).[5] Belsyazar sebenarnya anak Nabunidus dan bukan anak Nebukadnezar bahkan tidak pernah menjadi raja Babel (Bnd. Daniel 5: 1,2).[6]
Intinya, Kitab Daniel dialamatkan kepada orang-orang Yahudi yang dianiaya Raja Siria Antiokhus Epifanes IV, sebagai berita harapan kepada umat agar tetap setia kepada Allah menghadapi tekanan hidup. Daniel 1 : 9 – 21 merupakan bagian yang utuh dari Kitab Daniel pasal 1.  Menafsir Daniel 1 : 9 – 21 berarti harus bangun dalam keseluruhan pasal ini. Pasal 1 berfungsi sebagai pengantar kitab Daniel secara keseluruhan. Pasal 1 berbicara tentang dua hal yakni : pertama, tentang kekuasaan dan kebebasan Allah dan kedua tentang perilaku manusia yang saleh dan beriman.[7]
Percobaan Makanan sebagai Perjuangan Identitas Budaya  (1:9-21)
Narator dalam bagian kedua dari perikop Daniel 1 : 1 – 21 menampilkan tentang proses pencobaan makanan sebagai bentuk perjuangan mempertahankan identitas agama dan kebudayaan. Tafsirannya diuraikan sebagai berikut :
Persiapan percobaan makanan (Ayat 9 – 13)
Perintah menikmati makanan dan minuman raja pada bagian sebelumnya (ayat 5 – 8) dikembangkan narator dalam bagian ini. Narator meningkatkan kualitas perintah ini menjadi suatu pengujian iman dan identitas budaya.  Ayat 9 – 13 dipakai narator sebagai proses persiapan pencobaan makanan ini digelar. Narator memanfaatkan peran pemimpin pegawai istana (ayat 9 – 10) dan Daniel (ayat 11 – 13) untuk memperkuat perlunya digelar  pencobaan ini.
Ayat 9
Ayat ini sama dengan ayat 2 dan 7, narator menghadirkan tindakan intervensi Allah. Tindakan intervensi dengan menghadirkan perasaan kasih di hati pemimpin pegawai istana kepada Daniel. Allah memakai pemimpin pegawai istana sebagai alat untuk mengaruniakan “kasih dan sayang” kepada Daniel.[8] Kebaikan pemimpin pegawai istana adalah wujud kebaikan Tuhan.  Hubungan yang dibangun atas dasar simpati. Simpati dari pemimpin pegawai istana (Chief eunuch) sebagai wakil dari penguasa bukan yahudi kepada orang yahudi dalam lingkungan istana tertuang dalam pasal 1 - 6. Konteks ayat ini tidak menjelaskan adanya relasi permusuhan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi seperti ditemukan dalam pasal 7. Realitas ini penting dalam Sitz-im-Leben cerita sekaligus merefleksikan pengalaman positif orang-orang Yahudi diaspora pada masa Persia dan Helenistik mula-mula.[9] Relasi positif ini justru menjadi jalan masuk bagi Daniel untuk membangun negoisasi terkait ketetapan menikmati makanan dan minuman yang telah diinstruksikan raja. Itu artinya “kasih dan sayang” justru melapangkan jalan proses pencobaan makanan dapat berlangsung. Isyaratnya bahwa sejak awal pencobaan makanan digelar ada aktivitas Ilahi yang terbangun.
Ayat 10
Ayat ini menampilkan sisi dilematis pegawai pemimpin istana yakni muncul rasa takut terhadap pihak raja. Narator menampilkan pertarungan batin dari pegawai pemimpin istana ini. Istilah takut yang dipakai disini adalah yada. Kata ini sepatutnya merupakan sikap yang dialamatkan kepada Tuhan.[10] Rasa takut pemimpin pegawai istana kepada raja sebagai manusia disejajarkan dengan sikap takut kepada Tuhan. Itu artinya posisi raja adalah pihak yang di-tuhan-kan. Pada ayat sebelumnya Allah menaruh “kasih dan sayang” dalam diri pemimpin pegawai istana, sebaliknya pada ayat ini kontradiktif karena sisi kemanusiaannya muncul. Pengaruh kekuasaan raja mendominasi perasaan pemimpin pegawai istana. Ketakutan pemimpin pegawai istana merupakan ungkapan kesangsian terhadap keberhasilan pencobaan makanan ini. Keraguan jika Daniel dan teman-temannya akan gagal memenuhi tuntutan raja untuk berperawakan baik dan sehat karena tidak menikmati santapan raja. Kesangsian ini wajar dan menjadi opini kebanyakan orang. Menariknya bahwa ada respon tanpa komitmen dari pemimpin pegawai istana terhadap permintaan Daniel. Keberatan diajukan tetapi dengan sikap yang tetap positif, pemimpin pegawai istana tidak bereaksi buruk, tidak melapor masalahnya ke pemimpin tertinggi bahkan juga tidak menolak ide yang diajukan Daniel. Suatu respons pasif dan netral dari pemimpin pegawai istana merupakan manifestasi dari “kasih dan sayang Ilahi yang mengubah hatinya.[11]Ada petunjuk lewat kata-kata pemimpin pegawai istana, dimana narator secara halus membalikkan perhatian pembaca dari ketaatan makanan Daniel ke seluruh orang-orang muda. Ketaatan makanan Daniel dikuatirkan akan diikuti orang muda Yahudi lainnya. Itu suatu ancaman besar bagi Babilonia sebagai penjajah saat itu. Makanan dipakai sebagai alat dominasi. Kata Ibrani yang dipakai gil yang artinya kelompok atau generasi. Sikap Daniel merupakan role model bagi generasi muda saat itu. Ancamannya adalah hukuman mati, jika gagal memenuhi tuntutan raja dan kerajaan saat itu.
Ayat 11
Respon tanpa komitmen dari pemimpin pegawai istana terbukti dengan mengizinkan Daniel melanjutkan idenya dengan cara lain, sehingga ditunjuk seorang pegawai istana mengawasi mereka. Pada bagian ini Daniel mengambil peran untuk mempersiapkan kontes pencobaan makanan. Penafsir modern mengidentifikasi kata yang dipakai untuk pengawas istana yakni “meltsar” lebih merujuk pada pemimpin pegawai istana. Logikanya, bahwa Daniel telah gagal mendekati pemimpin pegawai istana yang tinggi kedudukannya, tidak mungkin mesti mendekati pegawai istana yang lebih rendah. Kata ini sangat mungkin berasal dari bahasa Akad massaru yang artinya “pengawal”.[12]
Ayat 12
Pada ayat ini Daniel mengubah permintaan dengan meminta hanya waktu yang singkat dan durasi khusus.  waktu pencobaan selama 10 hari, dapat dibandingkan pencobaan dalam Wahyu 2:10, kemungkinan pencobaan dalam kitab Wahyu ini dipengaruhi oleh kitab Daniel. Penentuan waktu yang terbatas menurut Jerome dilihat sebagai bukti iman, hanya dalam waktu singkat, orang muda Yahudi terbukti memiliki perawakan yang sehat dan baik.[13] Seow sendiri menilai permohonan Daniel dengan waktu singkat sangat rasional karena menimbulkan sedikit resiko bagi pengawas yang bertanggung-jawab mengawasi mereka saat itu. Andre Lacocque justru melihat pencobaan makanan ini sebagai ujian panjang dan berat, karena selama sepuluh hari orang-orang muda Yahudi hanya makan makanan berbiji dan minum air. Jika dibuat dalam jangka waktu yang lama sering muncul godaan ( bnd. Wahyu 2 : 10, Yosua 2: 7). Angka 10 adalah simbolik yang kadang-kadang menunjukkan jumlah paling besar (lih. I Sam. 1: 80 Kej. 24 : 22) dan kadang jumlah minimum (lih. Amos 6 : 9; 5:3; Kej. 18:32). Jadi, selama periode waktu sepuluh hari ini, Daniel dan teman-temannya hanya makan zeryim. Banyak penafsiran terhadap kata ini. Menurut Lacocque[14] maupun Collins[15] kata ini diartikan sebagai biji atau sayuran polong.
Ayat 13
Ungkapan yang sama digunakan tentang Lembu dalam mimpi di cerita Yusuf (Krj. 41:2). Tidak dipertanyakan terkait dengan puasa atau asketik tetapi agaknya ini hanya terkait dengan manfaat dari diet secara murni. Tanpa perlu melihat ayat 12, kiasan praktek asketik, tidak menjadi inti pencobaan makanan ini. Ada upaya narator membuat paralel antara diet yang dipilih Daniel dengan yang dijalani kaum Eseni. Daniel dengan teman-temannya tidak perlu dikebiri tetapi orang-orang muda ini tetap menjadi selibat. Daniel dan teman-temannya hidup hampir mirip seperti selibat.[16]
Proses Percobaan Makanan (Ayat 14 – 17)
Pada bagian ini permintaan percobaan makanan dijalankan. Mekanismenya adalah Daniel bersama teman-temannya tidak menikmati santapan raja dan hanya makan sayuran serta minum air selama jangka waktu sepuluh hari. Jadi, pengawas berpijak dari ide dan rencana dengan resiko yang ada (ayat 14). Pertanyaan, mengapa Daniel berketetapan tidak menikmati santapan raja? Menurut Towner, berdasarkan Tobit 1 : 11, Yudith 10: 5 dan Makabe 1 : 63, ada beberapa alasan, yakni : Pertama,  Daniel tidak mau mencemarkan diri dengan makanan raja yang mewah dan dagingnya dianggap masih berdarah, sesuatu yang dianggap najis, kedua, karena rajanya sendiri yang dianggap kafir, ketiga, karena ia tidak mau berhutang pada raja. Towner menegaskan, alasan ini belum tentu mengisyaratkan tindakan Daniel adalah bentuk kepatuhan kepada hukum makananan Yahudi yang diyakini oleh Daniel.[17] Porteus berpendapat lain, keputusan Daniel tidak menikmati santapan raja karena kepatuhannya pada hukum makanan. Hukum makanan merupakan gagasan kehidupan dan mati bagi orang saleh Yahudi dalam peperangan terhadap Antiokhus Epifanes IV.[18]Penulis sendiri lebih menilai makanan, adalah sebagai lambang dari identitas kebudayaan. Penetapan aturan makanan dari pihak raja merupakan tindakan seorang penguasa untuk mentransformasikan budayanya kepada pihak yang dijajah. Ketidakpatuhan terhadap aturan berarti hukuman mati. Daniel dan temana-temannya menjalani ketaatan makanan mengisyaratkan Daniel tidak mau didominasi dengan kekuasaan maupun pengaruh budaya raja sebagai penguasa. Pilihan Daniel merupakan suatu ungkapan iman, perjuangan mempertahankan identitas budaya dan bakti kepada bangsa. Bahwa bentuk penolakan kepada pihak penguasa dapat ditampilkan dengan cara halus dan tidak harus dengan kekerasan.  
Hasil pencobaan, diluar dugaan kebanyakan orang dimana keempat anak muda yang tidak menikmati makanan raja justru memiliki perawakan tubuh jauh lebih sehat dan baik dari yang makan (ayat 15). Pengawas selalu berusaha mengambil santapan makanan raja dan memberi sayuran sebagai makanan keempat orang muda ini (ayat16). Secara khusus, bukan diet yang menjadi inti dalam cerita ini. Narator berpindah dari pemberian makanan sayur berbiji oleh pengawas ke pemberian pengetahun dan kesuksesan dari pihak Allah (ayat 17). Narator mau menjelaskan bahwa ini bukan kemenangan vegetarian tetapi merupakan kemenangan Allah. Karena pemeliharaan Allah keempat anak muda ini diberkati dengan pengetahuan dan kesuksesan menguasai segala literatur dan kebijaksanaan (ayat 17).   
Hasil Percobaan Makanan (Ayat 18 – 21)
Ujian terakhir datang ketika semua anak muda pilihan dihadapkan pada Raja Nebukadnezar (ayat18). Hasilnya bahwa keempatnya memiliki pengetahuan dan perawakan lebih baik dari yang lain, sehingga mereka diberi posisi pada bagian administrasi kerajaan (ayat19). Keahlian dan kelebihan mereka justru disebutkan sepuluh kali lipat dari semua orang berilmu saat itu (ayat 20). Ungkapan sepuluh kali lipat ini sepertinya sejajar dengan waktu sepuluh hari mereka menjalani percobaan makanan. Ada kesejajaran antara kisah Daniel dengan Kisah Yusuf di Mesir (Kejadian 37 : 39 – 44)..
Daniel dikatakan melanjutkan di Babilonia hingga tahun pertama Raja Sirus (ayat 21). Maknanya bahwa, Daniel akan hidup lebih lama dari pada Nebukadnezar dan penggantinya. Melampaui zaman Babilonia yang menjadi setting cerita. Dengan rezim teror yang dahsyat, Anthiokus menodai Bait Allah, membunuh orang Yahudi dan menyuruh mereka makan makanan yang terlarang (1 Makabe 1:10-64; 2 Makabe 6-7). Banyak orang Israel berdiri kokoh di atas iman mereka, bagaimanapun tidak berkompromi, dan memilih mati (1 Makabe 1:62-63). Bagi banyak sarjana, rezim Anthiokhus adalah waktu Kitab Daniel disusun. Kisah Daniel menceritakan kembali keberanian resistensi orang yahudi terhadap ‘Nebukadnezar’ untuk generasi saat itu. Kisah resistensi Daniel tentunya telah menggetarkan orang-orang Yahudi pada zaman Anthiokhus. Kita tahu bahwa Daniel dan teman-temannya sungguh dikenal oleh Kitab Makabe sebagi model iman (1 Makabe 2:59-60). Kisah itu berlanjut untuk generasi berikut untuk perbaikan akhlak manusia. Kepentingannya bukan semata tentang kehidupan yang kurang menguntungkan dan kekacauan sejarah manusia, tetapi yang utama adalah tentang kehendak Allah yang bekerja secara misterius dalam sejarah. Ceritanya adalah tentang kemenangan Allah bukan melalui manifestasi kekuasaan biasa, tetapi berdasarkan anugerah Allah. Anugerah yang nyata di tengah-tengah penderitaan, tanpa kekuatan dan ancaman kematian.

2.        RELEVANSI TEOLOGIS BAGI KEHIDUPAN BERBUDAYA DI MALUKU
Krisis kebudayaan karena pengaruh dominasi penguasa adalah makna inti yang tersimpulkan dari hasil Tafsiran Daniel 1 : 9 – 21. Sumbangsih teologi ini cukup relevan menyikapi kehidupan berbudaya di Maluku. Masyarakat Maluku memiliki karakteristik konteks khas. Kekhasannya pertama terletak pada kontur geografis berupa kepulauan besar atau kecil yang dipisahubungkan dengan laut. Kondisi lingkungan kepulauan ini turut membentuk karakter masyarakat dengan pola-pola hubungan sosial antar masyarakat pulau-pulau. Secara sosio-historis, masyarakat Maluku merupakan kelompok masyarakat heterogen terkonfigurasi dari berbagai suku bangsa dan ras yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama dari generasi ke genarasi. Konfigurasi ini membentuk suatu identitas etnis Maluku.
Kolonialisme zaman belanda cukup kuat berpengaruh di Maluku sebagai bagian dari hasil interaksi sosial. Kehidupan berbudaya di Maluku tak bisa dilepaskan pengaruhnya dari kolinialisme. Agama dibawa oleh pihak penjajah telah hadir sebagai lambang dari dominasi kekuasaan. VOC sebagai penguasa Kristen pada zaman dulu, terikat dengan pasal 36 dari Pengakuan Iman Belanda yang membebankan pemerintah dengan tugas utama, yakni : memelihara Gereja yang kudus, melawan serta memberantas segala agama palsu dan penyembahan berhala, memunahkan kerajaan anti-Kristus, dan memajukan kerajaan Yesus. Pejabat VOC memprioritaskan pelayanan rohani sebagai tugas utama. Tugas ini diikuti dengan tanggung-jawab menentang dan memberantas agama palsu dan penyembahan berhala, keduanya berarti “memprotestankan “umat Katolik” dan “mengkristenkan” umat yang lain. Tindakan kristenisasi mempunyai tujuan agar menanamkan kuasa dominasi lewat agama.
Maluku dengan kekayaan budayanya juga wajib dikristenkan sebagai alat dominasi kekuasaan Belanda. Agama Kristen khususnya adalah milik penjajah dan diberi tempat yang tinggi atau superior. Kehadiran agama Kristen cukup memberi pengaruh terhadap budaya Maluku secara keseluruhan. Adat disubordinatkan dari agama dan mengalami distorsi karena harus diinjili sesuai dengan tuntutan agama. Isi dan tata cara ritualistik budaya mengalami perubahan sesuai aturan agama sebagai elemen tertinggi. Kehadiran agama yang merupakan alat dominasi Belanda telah mengakibatkan terjadinya krisis kebudayaan. Salah satu imbas kolonialisme yang dapat disebutkan, hampir semua desa yang beragama Kristen tidak lagi menguasai bahasa asli (Bahasa Tanah). Di Desa Islam, bahasa asli (bahasa tanah) masih bertumbuh subur. Ada banyak perubahan-perubahan sistem adat di Maluku yang mesti diterangi oleh Injil.  
Masyarakat Maluku saat itu terkonstruksi dalam ambivalensi budaya. Pada satu sisi mengagungkan konstruksi budaya kolonial dengan mengadopsi tatanan budaya belanda sebagai tata cara hidup. Tetapi pada sisi lain terjebak dalam imbas budaya kolonial yang memanjakan. Budaya Amtenar misalnya, memanjakan orang Maluku untuk mengkultuskan pekerjaan Pegawai negeri atau kerja kantor sebagai pekerjaan terhormat dan alergi terhadap peekerjaan berwirausaha dan lain sebagainya. Masyarakat Maluku siuman akan buruknya pengaruh budaya ini dan tak tak mampu keluar dari kontruksi budaya yang memanjakan ini. Budaya Maluku dalam perjalanan sejarah mengalami krisis dan semakin terposisikan di persimpangan.  
Pikiran teologis Daniel 1 : 9 - 21 memberi pencerahan bahwa kekuasaan mempunyai andil menghadirkan dominasi terhadap budaya bahkan berpengaruh mereduksi nilai budaya itu sendiri. Sikap Daniel dan teman-temannya untuk mempertahankan identitas budaya, dengan cara perlawanan halus memberi sumbangsih positif. Kebudayaan harus dihargai nilai dan kekayaannya karena menunjukkan identitas suatu masayarakat atau manusia. Manusia yang tak berbudaya adalaha manusia yang tak beridentitas. Maluku adalah salah satu bukti adanya pengaruh penjajahan yang menghadirkan krisis dalam hidup berbudaya. Budaya sebaiknya dihargai kekhasannnya dan tak boleh disubordinatkan dari agama. Budaya dan agama diletakkan pada poisisi egaliter dan seling membangun satu dengan yang lain. Tuhan menghadirkan kita dengan kekhasan budaya masing-masing untuk dihargai dan dilestarikan demi kemanusiaan. Hargailah Tuhan sebagai pemberi budaya dan junjunglah nilai budaya sebagai bagian dari tanggung-jawab ketaatan kepada Tuhan.

3.        PENUTUP
Demikianlan hasil penafsiran terhadap Daniel 1 : 9 – 21 dalam perspektif postkolonial. Kajian teologi ini tidak murni berbicara dalam realitas konteks historis Alkitab semata. Tetapi Hasil kajian teologi mesti dikontribusikan bagi realitas hidup masyarakat saat ini. Konteks Maluku yang menghadirkan adanya krisis akibat pengaruh dominasi kekuasaan Belanda zaman dulu, menempatkan budaya pada posisi persimpangan.
Daniel 1 : 9 – 21 memberi pejalaran berharga tentang pentingnya perjuangan orang percaya untuk mempertahankan identitas budaya sebagai bagian ketaatan kepada Tuhan. Budaya dihargai karena budaya adalah bagian dari karya manusia yang dikendalikan oleh Tuhan. Menghargai adalah bagian dari menghargai Tuhan sumber segala sesuatu termasuk sumber budaya yang sejati.













DAFTAR PUSTAKA


Budiawan (Ed.), Ambivalensi : Postkolonialisme Membedah Musik Sampai Agama di Indonesia,
                            Yogyakarta : Jalasutra, 2010
Collins, Jhon. J., Daniel : A Commentary on the Book of Daniel, Minneapolis : Fortress Press, 1993
Gazperz, Steve, Iman Tidak Pernah Amin, Jakarta : BPK Gunung Mulia,  2009
Lacocque,  Andre, The Book of Daniel, London : SPCK,  1979
Seow , C.L, Daniel, London : Westminster Jhon Fox Knox Press, 2003
Siahaan,  S.M. & Paterson, Robert. M., Kitab Daniel : Latarbelakang Tafsiran dan Pesan, Jakarta :  
                               BPK Gunung Mulia, 1994
Porteus,  Norman, Daniel,  Filadelfia :  The Westminster Press, 1962
Sugirtharajah,R. S, Postcolonial Criticsm and Biblical Interpreation, New York :
                              Oxford University Press, 2002
Towner, W. Sibley, Daniel : Interpretation, Atlanta : Jhon Knox Press, 1984





[1] Steve Gazpers, Iman Tidak Pernah Amin, (Jakarta : 2009), p. 140
[2] Budiawan (Ed.), Ambivalensi : Postkolonialisme Membedah Musik Sampai Agama di Indonesia, (Yogyakarta : 2010), p. xi
[3] R.S. Sugirtharajah, Postcolonial Criticsm and Biblical Interpreation, (New York : 2002), p. 11
[4] S.M. Siahaan & Robert. M. Paterson, Kitab Daniel : Latarbelakang Tafsiran dan Pesan, (Jakarta : 1994), p. 50-51
[5] C.L. Seow, Daniel, (London : 2003), p. 21
[6] Ibid, p. 76
[7] Ibid, p. 20
[8] Ibid, p. 27
[9] Jhon. J. Collins, Daniel : A Commentary on the Book of Daniel, (Minneapolis : 1993), p. 143
[10]Ibid. p. 143
[11] C.L. Seow, Daniel, p. 27
[13] Ibid, p 144
[14] Andre Lacocque, The Book of Daniel, (London : 1979), p. 31
[15] Jhon. J. Collins, Daniel : A Commentary on the Book of Daniel, p. 144
[16] Andre Lacocque, The Book of Daniel, p. 31
[17] W. Sibley Towner, Daniel : Interpretation, (Atlanta : 1984), p. 24
[18] Norman Porteus, Daniel,  (Filadelfia :  1962), p. 29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar